Lewat Webiner, BSN Beberkan Kiat Sukses Tembus Pasar Australia

Peserta webinar yang diselenggarakan BSN Jawa Timur dan Sulawesi Selatan/ ist

Terkini.id, Makassar – Indonesia dan Australia sebagai “Economic Powerhouse” harus saling memanfaatkan kekuatan masing-masing negara guna meningkatkan kontribusi pada global value chain.

Melalui Indonesia-Australia Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) ini, diharapkan dapat mendorong peningkatan
ekspor berbagai produk Indonesia ke Australia khusunya produk UMKM.

Dari hal tersebut, Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui Kantor Layanan Teknis (KLT) BSN Jawa Timur dan Sulawesi Selatan bekerja sama dengan FTA Center Surabaya dan Makassar menyelenggarakan Website Seminar (webinar) dengan Tema Standardisasi Produk Pangan Olahan,
Sukses Tembus Pasar Australia.

Menarik untuk Anda:

Webinar ini dibuka oleh Kepala BSN Kukuh S. Achmad, dengan narasumber Direktur Perundingan Bilateral Kementerian Perdagangan Ni Made Ayu Marthini, Atase Pedagangan KBRI Canberra Australia
Agung Wicaksono, Direktur Sistem Penerapan Standar dan Penilaian Kesesuaian BSN Konny Sagala, UMKMBolu Ketan Mendut Arso, dan dimoderatori oleh Kepala Subdirektorat Fasilitasi Pelaku Usaha
BSN Nurhidayati.

Lebih dari 380 peserta mengikuti kegiatan ini, dan menjadi daya tarik tersendiri bagi
pelaku usaha yang ingin memanfaatkan implementasi perjanjian IA-CEPA.

Kepala BSN Kukuh menjelaskan, perjanjian bilateral IA-CEPA yang akan berlaku efektif per 5 Juli 2020.

Di tengah pandemi Covid-19, ekonomi di seluruh dunia mengalami penurunan.

Menurutnya, dengan memanfaatkan IA-CEPA dapat menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi kedua negara.

“Apabila kita telah menandatangani perjanjian bilateral, diharapkan hasilnya lebih cepat dirasakan dibandingkan perjanjian multilateral,” ujar Kukuh.

Kukuh menambahkan, implementasi IA-CEPA BSN telah bekerjasama dengan Standard Australia, untuk melakukan pemetaan terhadap standar dan persyaratan bagi kedua negara agar harmonis, baik barang maupun jasa.

Dalam hal penilaian kesesuaian, diharapkan hasil pengujian laboratorium dan sertifikasi antar kedua negara untuk bisa saling diterima dan disepakati dengan menggunakan mekanisme mutual recognition arragement secara internasional.

“Sehingga seluruh laboratorium dan
lembaga sertifikasi yang diakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional dapat diterima oleh regulator di Australia,” terangnya.

Dengan acara ini, diharapkan seluruh pelaku usaha untuk tetap produktif dan memanfaatkan perjanjian bilateral IA-CEPA. Sehingga, dapat meningkatkan percepatan ekspor dan produk Indonesia
lebih berdaya saing.

“Kita mendorong bagi pelaku usaha khususnya UMKM dapat menembus ke pasar Australia,” beberya.

Untuk membaca peluang pasar ekspor dan manfaatnya bagi pelaku usaha yang dipaparkan oleh Ni Made, melalui implementasi perjanjian IA-CEPA ini, tarif bea masuk Australia akan 0 persen pada Juli 2020.

Namun, ketentuan standar dan keamanan pangan tetap berlaku sesuai dengan regulasi Australia. Selain itu, stakeholders perlu mengetahui persyaratan standard dan keamanan di Australia.

“Pemerintah siap mendukung stakeholders melalui program kerjasama ekonomi dalam IA CEPA,” ujar Ni Made.

Dalam hal standar, regulasi teknis dan penilaian kesesuaian yang disampaikan oleh Konny, perlu ditekankan bagi pelaku usaha yang ingin ekspor ke Australia, diperlukan mematuhi keamanan pangandi Australia, seperti standar umum pangan (termasuk persyaratan label), standar produk pangan.

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Siap-siap, New Jeep Bakal Diluncurkan di Makassar, Ini Jadwalnya

Bank Sulselbar Kerja Sama dengan Givaudan Sukseskan Program PEN

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar