Buku ‘Cinta Ata dan Karaeng’, Novel Fiksi tentang Cinta Pasangan Beda Kasta di Masyarakat Kajang

Terkini.id, Makassar – Dua penulis muda di Makassar, meluncurkan sebuah novel fiksi yang bercerita tentang cinta sepasang kekasih yang terhalang adat istiadat.

Dua penulis tersebut, yakni Muslimin Udding dan Ahlam meluncurkan buku berjudul ‘Cinta Ata dan Karaeng’.

Lewat sinopsis yang diterima terkini.id, kedua penulis tersebut menceritakan, novel Cinta Ata dan Karaeng menggambarkan bagaimana perjuangan seorang laki-laki yang dalam dirinya melekat status ‘Ata’ untuk memperjuangkan cintanya pada seorang gadis yang dalam darahnya melekat status ‘Karaeng’.

Menarik untuk Anda:

“Dalam rentang tahun 2018 sampai 2019 di Sulawesi Selatan pernah ramai tentang uang panaik yang memberatkan seorang laki-laki untuk mempersunting seorang wanita Bugis atau Makassar,” jelasnya lewat keterangan tertulis.

Namun pada kenyataannya, uang dapat diusahakan. “Lalu bagaimana dengan garis keturunan apakah bisa dihapuskan? cerita ini yang kemudian kami angkat dalam novel ‘Cinta Ata dan Karaeng’,” tambahnya lagi.

Intinya, dijelaskan bahwa uang panaik dapat diusahakan namun garis keturunan tidak bisa dihapuskan.

“Maka saya kira cinta yang diharamkan karena garis keturunan lebih memberatkan dibanding cinta yang terhalang karena uang panaik,” terangnya.

Selengkapnya, berikut Sinopsis Cinta Ata dan Karaeng:

Bagaimana jadinya jika cintamu dilarang oleh adat? Seperti kisah cinta dalam novel ini, “CINTA ATA DAN KARAENG.” Keturunan ATA oleh masyarakat di Tanah Adat Kajang dikenal memiliki status terbawah, sedangkan keturunan KARAENG dikenal memiliki status tertinggi. Hubungan kedua manusia yang memiliki status sosial berbeda karena keturunan tersebut sangat dilarang oleh masyarakat di Tanah Adat Kajang.

Namun Ahmad Sahar Sahran yang memiliki darah ATA sangat mencintai Andi Nur Aina yang memiliki darah KARAENG, begitupun sebaliknya. Orangtua mereka bukan tak merestui namun sayang adat mengharamkan mereka untuk bersama.

“Lalu adakah jalan penyatuan cinta antara ATA dan KARAENG?”

Berbicara tentang ATA mungkin tidak asing bagi masyarakat Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan dan lebih khusus Kec. Kajang Kab. Bulukumba.

Pada beberapa literatur keturunan ATA selalu dipandang sebagai budak hal tersebut yang menyebabkan mengapa pada beberapa kasus di Kecamatan Kajang yang sangat kental dengan tradisi adat istiadatnya melarang keras adanya perkawinan antara ATA dan KARAENG.

Lalu apakah benar tidak ada jalan penyatuan antara ATA dan KARAENG? Pertanyaan ini yang saya jawab dalam novel “Cinta Ata dan Karaeng,” mengingat banyaknya pasangan kekasih yang dipisahkan karena persoalan tersebut. Ini yang kemudian menjadi indpirasi kami dalam menulis Novel Cinta Ata dan Karaeng.

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

[Cerpen] KKN di Tanah Majis Beradat

Gubernur Anies Sebut Perayaan Cap Go Meh Perkuat Persatuan Warga

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar