[Cerpen] KKN di Tanah Majis Beradat

Illustrasi jalan gelap sepanjang pohon piahun https pinterest.com

“Hati-hati kampung ini terlampau banyak penjaga, banyak yang sudah datang dan meregang nyawa disini,” tuturnya dalam bahasa Bugis yang serindai. Dia janda seorang purnawirawan yang telah menghabiskan setengah abad hidupnya di desa yang menjadi lokasi pengabdian kami. 

Rombongan KKN yang bertolak dari Samata pagi-pagi buta ke daerah ini berjumlah 109 orang, dari awal persiapan keberangkatan tidak ada maklumat dari dosen pembimbing dan pendamping bahwa lokasi yang akan didatangi adalah perkampungan yang amat sangat menjaga tradisi dan adat, juga sudah terbiasa dengan hal-hal magis dan mistis lainnya.  

Maklumat yang diberitahukan sekadar daerah yang akan didatangi ini adalah daerah pegunungan apik yang agraris, desa yang penduduknya mayoritas petani, serta dibahasakan pula keadaan jalan yang dominan tanjakan, aspal yang tidak merata, dan masih ada beberapa desa yang sama sekali belum disentuh listrik juga jaringan telepon dan internet.

Menarik untuk Anda:

Semua lancar-lancar saja, sejak keberangkatan, perjalanan, hingga proses ceremonial penyambutan dan penerimaan disana, hari itu kepala camat sedang mengurus hal yang urgen di ibukota kabupaten, sehingga yang ditugaskan memberi sambutan dan menerima kedatangan kami adalah sekertaris camat. 

Saat membawakan sambutan, testimoni bapak sekcam yang menyebutkan bahwa penduduk daerah ini begitu membutuhkan “pencerahan religiuitas”, namun pesan itu berlalu begitu saja seperti angin yang berselo melewati canda tawa saat itu, lambat laun setelah menerima beberapa terror makhluk gaib, beberapa diantara kami kian meyadari, maksud dari notifikasi penting yang telah lewatkan tadi.

Prosesi penerimaan formal usai, deretan mobil jemputan dari masing-masing kepala desa meriuhkan kantor camat dihari itu, benar saja apa yang disampaikan dosen pembimbing mengenai topography daerah ini serupa tapi tidak sama dengan nyatanya, kemarin saat masih di kampus II Samata penjelasan dua dosen kami tampak santai dan tidak begitu jadi masalah, betapa kami telah dinina bobokkan dengan kalimat-kalimat penenang “bahwa meski desa, tapi semua lengkap dan baik-baik saja” namun mata kepala kami menolak dari realitas yang awalnya kami yakini. Topography daerah ini melatih kami menjadi driver motocross dan beberapa keahlian terapan lainnya.

Kembali ke cerita awal, bahwa masa KKN bukan hanya menaruh benalu cerita romansa semata, namun ada cerita horror yang juga tidak kalah membatinnya saat pengabdian, iya “membatin” masih ingat geger para netizen di twitter setelah membaca “KKN Desa Penari”, ada juga cerita senior kami yang diganggui hantu Sumiati. Kami yang bersembilan ini juga memendam kisah yang membuncah sukma kala itu.

Terror pertama kali, saat belum genap seminggu di rumah pak desa yang diputuskan menjadi posko untuk kami, pukul 04.00 subuh langit masih gelap dan ayam sama sekali belum ada yang berkokok menadakan pagi. Saat itu saya bersama Meyska menunggu fajar shodiq dan kumandang adzan subuh sembari membaca QS. Al-Waqiah di ruang tamu, teman yang lain masih terlelap lelah, mengingat hari-hari awal disana kami selalu diberi shock theraphys anjing-anjing warga yang masih menganggap kami asing, dikejar anjing di juntaian jalan berbukit memberi nyeri pada paha dan betis kami berhari-hari.

Saat pak desa dan tujuh teman lainnya terlelap, pintu tiba-tiba saja terbuka di iringi bunyi nyaring khas gagang pintu, Meyska yang duduk disamping pintu tenggelam fokus menikmati bacaan ayat di layar gawainya, dan hanya merespon dengan sesaat menoleh kekiri, posisi dudukku tepat di depan Meyska yang pas melihat pintu terbuka, kudengar suara langkah kaki menaiki tangga dan melihat pintu terbuka karena dorongan, ada bayangan samar-samar membungkuk lalu berbalik, saat itu gaduh teriakan ku membangunkan semua yang terlelap. Meyska ikut berteriak karena mulai sadar ada yang janggal, kami berdua sigap menjauh dari pintu yang menganga membangunkan kordes, karena menjaga wudhu Meyska menyundul kordes. “kordes.. kordes bangunko” sahut Meyska…lariku yang lamban mendatangi Meyska ikut membangunkan kordes dalam keadaan kaget, kordes terbangun hingga refleks meninju kuat paha dan perutku.

Hizbul menenangkan dengan kembali mengunci pintu dan berkata “anginji… pintu tidak terkunci”, padahal cukup lama pintu tertutup dan tidak ada gerak angin yang kami rasakan subuh itu, kami juga selalu teliti mengunci pintu sebelum tidur, aneh…

Paginya, saat matahari mulai meninggi ketakutan itu berubah menjadi guyonan jenaka anak-anak di posko, terutama kordes yang meninjuku dengan kekuatan penuh, menggelitik anak-anak dengan tidak hentinya menertawai.

Tidak selesai di situ terror kedua datang saat Rahma, Kordes, Ruly dan Ibul sedang asyik menikmati malam yang larut sambil bermain kartu dan bercerita ria di balkon rumah, tiba-tiba serentak mereka terdiam karena mendengar jelas teriakan anak-anak, begitu jelas, sangat nyata seolah menegur aktivitas mereka yang sudah lewat tengah malam. Permainan mereka sudahi karena menghawatikan terror yang lebih menakutkan datang jika terus saja lanjut.

Tidak sebatas itu, saya yang mulai mengakrapkan diri dengan warga disana, mulai disuguhi cerita hal yang bagi kami dianggap mitos tapi disana begitu dipercayai, hampir setiap warga yang kami singgahi rumahnya, membuka mulut bahwa kampung yang mereka diami ini banyak kekuatan misitis dan makhluk gaib yang menjaga, sehingga penting bagi kami bersikap baik dan menjaga tingkah laku karena tidak sedikit orang-orang yang congkak datang bertandang meregang nyawa seketika disana, entah kecelakaan, jatuh ke jurang dan beberapa insiden mengerikan lainnya.

Janda seorang purnawirawan itu banyak bercerita kisah-kisah pilu mereka yang kehilangan nyawa disana, membuat nyaliku ciut dan mulai ketakutan gelisah, apalagi terror yang datang ke kami tidak henti-hentinya.

Kejadian selanjutnya tiga diantara kami mengalaminya, ada sesuatu yang ngeri di dapur terkadang menganggu, awal penampakan yang selalau kujumpai adalah aroma bayi dan bau amis di dapur, tidak lama setelah aroma yang mirip danur itu hadir terdengar sesekali tangisan bayi, padahal disekitaran posko yang kami diami tidak ada bayi, hal serupa didengar juga oleh Meyska dan Hafifa, mereka kadang mendengar tangisan bayi pula dan sama tempatnya di dapur.

Mereka memilih diam, daripada terus terusan menjadikan cerita horror kasak kusuk diantara kami, kami memberanikan diri menanyakan langsung kepada ahlulbait tuan dan puan rumah, pak desa dan putri sulung pak desa, keduanya mengiyakan bila ada makhluk yang menghuni kediaman mereka itu, ada sosok bayi gaib, sosok perempuan berambut panjang, dan laki-laki paruh baya yang menyerupai pak desa, pak desa bercerita kepada kami bahwa ada sesuatu yang menyerupainya terkadang berjalan tengah malam di rumah, dan benar saja Rahma dan saya pernah menjumpainya membuka pintu dan masuk ke rumah jam 3 subuh, padahal saat itu pak desa sedang tidak ada karena ada urusan dinas di Makassar, insiden pintu terbuka juga sepertinya ulah makhluk yang menyerupai pak desa karena kemunculannya selalu dari pintu.

Tentang sosok perempuan berambut panjang mengenakan dress putih juga pernah menampakkan sediri rupaya di depan lemari saat saya sedang sendirian hendak menuruni tangga ke dapur, dan Hasbul teman posko tetangga, juga menceritakan hal yang sama saat malam-malam datang bertamu di posko bahwa ada makhluk gaib di sekitaran lemari sosok perempuan yang mirip kuntilanak, adik Meyska juga melihat penampakannya saat tengah VC dengan Meyska. 

Saat berulang kali adik semata wayangnya menegur penampakan itu, Meyska memilih untuk tidak menoleh sama sekali kebelakang, “jangan sekali-kali menoleh ke belakang bila merasa ada yang janggal”, Meyska gadis jawa asli mengatakan petuah itu diajarkan dan diyakini oleh orang jawa kebanyakan. Pun Rahma dan Najiah juga pernah kasak kusuk berdua kalau sering kali ada suara perempuan tertawa ngeri seperti kuntilanak di dapur.

Lambat laun kami mulai terbiasa dengan makhluk makhluk ini, terror mendebarkan kembali diamai ketiga teman laki-laki kami yang malam-malam pulang keposko setelah bertamu dari dua posko tetangga, mereka bertiga melihat ada sesuatu yang terbang mengintai dan mengejar mereka, Hizbul yang paling berututur banyak, sementara Ruly mengeluh kesakitan dibagian punggung karena makhluk tersebut, dan kordes mengiyakan jelas ada yang membuntuti mereka dari belakang sejak melewati semak-semak dan pohon besar dibalik tikungan yang berjurang.

Terror terakhir sebelum kepulangan yang dialami kordes sendiri, tapi juga ikut mencelakai saya, malam itu berdua dengan kordes kami keluar hendak membeli kuota internet dan beberapa persediaan obatku yang menipis, ditengah perjalanan setelah melewati pegunungan terasering motor terperosot, kami terjatuh kordes berdarah luka ringan, sedangkan saya tergores dan menanggung sakit dibagian punggung dan kepala karena benturan.

Dalam perjalan kordes mengatakan “epi… ada tadi putih-putih kulihat mengikut waktu ambil helmka sebelum turun” setelah mendengar kalimat kordes yang dengan tetang memberitahu ini  saya mulai merasa kedinginan karena takut dan memilih diam tidak merespon, takut jatuh lagi yang kedua kalinya. Karena sebelum jatuh kami bercanda keterlaluan di motor.

Setelah penarikan rasa legah belum sama sekali kami rasakan, Nirwana teman kami yang sempat sakit selama di posko kembali sakit di tengah malam setelah ada beberapa hari di Samata, saya bersama Meyska membawa Nirwana ke RS Awal Bross, Wana merasa sesak dan kaku tidak bisa bicara saat itu, sementara kordes dalam perjalanan pulang mengaku mual saat berzikir karena merasa ada yang mengikuti.

Saya memilih menceritakan ini bukan untuk ajang takut menakuti, namun benar adanya mereka yang tidak terlihat itu memang ada, sihir dan perdukunan itu ada bukan hanya sekedar mitos, bagi koloni akademikus yang terpelajar mungkin itu adalah sugesti mestis yang fiktif.

Semoga cerita ini kemudian bisa menjadi pelajaran agar berhati-hati saat menjalankan tugas pengabdian, jaga sikap, jaga kesehatan dan dekatkan diri pada-Nya sang Maha karena atas kuasa-Nya segala pertolongan dan perlindungan mengampiri.

Penulis: Epi Aresih (Mahasiswi UIN Alauddin Makassar)

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Buku ‘Cinta Ata dan Karaeng’, Novel Fiksi tentang Cinta Pasangan Beda Kasta di Masyarakat Kajang

Gubernur Anies Sebut Perayaan Cap Go Meh Perkuat Persatuan Warga

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar