IGI Minta Tahun Ajaran Baru Digeser ke Januari 2021

Terkini.id — Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) memberikan kepastian agar tahun ajaran baru digeser ke bulan Januari 2021.

Menurutnya, kepastian tahun ajaran baru bergeser ke Januari akan membuat dunia pendidikan memiliki langkah-angkah yang jelas terutama terkait minimnya jumlah guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Online. 

“Data Kemdikbud yang disampaikan oleh Plt Dirjen Dikdasmen menunjukkan lebih dari 60 persen guru bermasalah dalam PJJ karena ketidakmampuan guru dalam penguasaan teknologi,” ungkap Ramli Rahim melalui pers rilis, Rabu 27 Mei 2020.

Menarik untuk Anda:

Kemdikbud harus membuka mata bahwa realitas PJJ di Indonesia masih bermasalah dan hal itu selama ini dikerjakan IGI yang justru tak dilihat adanya upaya kemdikbud menuntaskan masalah rendahnya kemampuan guru melaksanakan PJJ. 

“Dan karena itu IGI siap mengambil tanggungjawab itu dengan syarat kemdikbud memberikan tanggungjawab itu secara resmi ke IGI,” urainya.

Dengan menggeser tahun ajaran baru, kemdikbud bisa fokus meningkatkan kompetensi guru selama enam bulan agar di bulan Januari sudah bisa menyelenggarakan PJJ berkualitas dan menyenangkan jika ternyata Covid-19 belum tuntas. 

Ia menambahkan, menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dari penularan Covid-19. Berdasarkan data pasien ODP mencapai 3.324 anak, 129 anak berstatus ODP meninggal. 584 anak terkonfirmasi positif Covid-19 dan 14 anak meninggal karena Covid-19. 

Temuan ini menunjukkan bahwa angka kesakitan dan kematian anak akibat Covid-19 Indonesia cukup tinggi dan membuktikan bahwa tidak benar kelompok usia anak tidak rentan terhadap Covid-19 atau hanya akan menderita sakit ringan saja.

Hingga hari ini, sudah 1.418 meninggal karena Covid-19 dan dari 23.165 yang terkonfirmasi, baru 5.878 yang dinyatakan sembuh.

“Data IDAI seperti yang kami uraikan di awal menunjukkan anak didik tak kebal Virus dan juga tetap rentan tertular virus bahkan berpotensi meninggal. Jika pun protokol kesehatan dijalankan sekolah, sebesar apa kemampuan sekolah mengontrol siswa ketika sudah berada di luar ruang kelas?. Apalagi tugas itu akan diserahkan oleh negara kepada guru-guru yang berstatus non PNS yang dibayar murah oleh negara,” ujar Mantan Politisi Partai Golkar ini.

Olehnya itu, dengan digesernya tahun ajaran baru ke Januari 2021, dapat membantu orang tua mengatasi masalah ekonomi. Dengan anak didik kembali ke sekolah, bukan hanya kecemasan akan kesehatan yang hadir tapi juga bertambahnya beban ekonomi orang tua, mulai dari biaya transportasi, biaya jajan dan biaya lainnya. 

“Sementara kondisi ekonomi mayoritas rakyat Indonesia sedang terpuruk, jika tahun ajaran tak digeser dan PJJ tetap dijalankan maka tetap akan menyedot biaya kuota data atau seharusnya menyediakan gadget atau alat baru, karena gadget lama sudah bermasalah atau akan digunakan orang tua keluar rumah menjalani New Norma yang dicanangkan pemerintah,” pungkasnya.

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Forum OSIS Sulsel Apresiasi Kepala SMKN 9 Jeneponto Bantu Siswa Korban Kebakaran

Pandemi Covid-19 Tak Halangi SD Islam Athirah Makassar Gelar Kegiatan Field Trip

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar