Anak 9 Tahun Dicabuli Oknum Guru Ngaji, Kadis PPPA: Status Pelaku Masih Terduga

DPPA Makassar
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar Andi Tenri A Palallo

Terkini.id, Makassar – Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar, Tenri A Palallo mengampaikan telah menangani dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oknum guru mengaji terhadap anak-anak di Jalan Batara Bira, Kompleks PU, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanayya.

“Adanya dugaan pencabulan yang dilakukan. Sudah jalan ini, dalam proses penyidikan,” kata Tenri, Sabtu, 8 Agustus 2020.

Tenri A Palallo mengatakan, pihaknya bekerja secara senyap dalam menangani kasus tersebut lantaran pelakunya belum ditetapkan tersangka. Saat ini baru sebatas dugaan.

Scroll ke Bawah untuk melanjutkan

“Cuma kita tidak ribut-ribut ke media karena baru terduga,” kata dia.

Menurut Tenri, pihak berwenang yang akan memutuskan untuk memberi klaim pelecehan atau tidak. 

“Makanya sudah dirujuk ke Polisi dan dalam proses. Polisi dalam proses pendalaman,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Direktur LBH APIK Sulsel Rosmiati Sain mengatakan pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap kasus tersebut. 

“Kemarin kami sudah melaporkan dan sudah masuk ke Unit PPA Polrestabes Makassar yang khusus menangani perempuan dan perlindungan anak,” kata dia.

“Hari ini diminta keterangan korban untuk BAP,” sambungnya kemudian.

Ros, sapaanya, menduga ada banyak korban pencabulan yang dilakukan oleh oknum tersebut. Saat ini, kata dia, baru satu yang melapor ke pihaknya.

Ros menyebut, bagi mereka yang menjadi korban dari kasus tersebut agar melakukan pelaporan ke pihak kepolisian. 

“Kalau ada korban di luar dari yang melapor agar mengadukan hal tersebut agar menguatkan bukti pelaporan dan memberi penekanan ke pelaku,” kata Ros.

Ia meminta agar korban tak merasa takut untuk melakukan pelaporan. Saksi dan korban akan mendapatkan perlindungan hukum. 

“Jangan takut melapor, saksi dan korban tetap akan dilindungi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar Abdul Wahab Tahir ikut mengecam tindakan pelecehan seksual tersebut.

Wahab mendorong aparat kepolisian untuk menuntaskan kasus tersebut secepatnya. Bila terbukti, ia meminta pelaku mendapatkan hukuman berat. 

“Innalilahi wainnailaihi Raji’un, harus dihukum berat itu. Kalau itu terbukti saya minta aparat kepolisian menjatuhkan hukuman berat terhadap pelaku,” kata Wahab.

Menurut Wahab, anak-anak harus mendapatkan perlindungan. Pasalnya, mereka adalah aset dan sekaligus masa depan bangsa ini.

Wahab meminta polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan hingga kasus tersebut tuntas. Sehingga, kata dia, hal itu tak terulang kembali.

“Kita berharap kepolisian melakukan pengusutan tuntas sehingga semua pihak mendapatkan kebenaran dan keadilan,” pungkasnya.

Nenek Korban Ngamuk

Sebelumnya, oknum guru ngaji tersebut, yakni AN (60), dilabrak orang tua murid di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, setelah diduga mencabuli sejumlah anak yang menjadi muridnya.

Bahkan, ibu korban yang emosi mengetahui hal itu langsung mendatangi rumah AN. Ibu korban mengamuk dan menyerang pelaku serta meminta aktivitas pengajian yang dilakukan AN diberhentikan.

“Si ibu langsung lapor ke RW, terus ditemani sama RW ke rumahnya terduga pelaku. Di sana diseranglah, karena ibunya dalam keadaan emosi. Sudah tidak mengajar. Pak RW sudah menghentikan kegiatannya itu,” kata E, nenek salah satu korban seperti dikutip dari Suara.com, Sabtu 8 Agustus 2020.

E menceritakan, kasus pencabulan tersebut awalnya diketahui ibu korban pada akhir Juli 2020.

Itu pun lantaran ibu korban mencurigai perilaku anaknya yang tidak mau lagi pergi ke tempat pengajian AN.

Padahal, kata dia, hari-hari sebelumnya, cucu nenek E tersebut tampak begitu rajin dan bersemangat untuk belajar mengaji.

Melihat hal itu, ibu korban kemudian berusaha membujuk anaknya agar dapat pergi mengaji.

Hanya, bujukan ibu korban tidak membuahkan hasil. Anak korban tegas menolak permintaan ibunya, dengan alasan telah dicabuli AN yang tak lain adalah guru mengajinya sendiri.

“Iya berubah perilakunya. Kan dia masuk mengaji di situ satu minggu. Pas setelah satu minggu, dia tidak mau pergi mengaji,” kata dia.

“Pertamanya dia semangat pergi mengaji. Tidak ada masalah, tenang-tenang saja, kenapa tiba-tiba berubah? Kenapa ini anakku? Ada apa? Bertanyalah ibunya. Dibujuk-bujuk sama ibunya, anaknya mengaku bilang saya dicabuli seperti itu,” E menambahkan.

E mengakui belum dapat memastikan berapa banyak anak yang sudah jadi korban pencabulan pelaku.

Alasannya, anak-anak yang belajar mengaji di tempat AN banyak yang trauma sehingga tidak mau bicara.

“Jumlah pastinya tidak bisa kita sebut ya, karena banyak yang tidak mau bicara gitu. Iya (trauma), jadi kalau mau pastinya itu, tadi yang lapor. Tapi kalau misalnya dugaan saja ada belasan,” ungkap E.

E mengemukakan, awalnya kasus dugaan pencabulan tersebut di laporkan ke Polsek Biringkanaya.

Akan tetapi, karena di sana tidak memiliki Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke Polrestabes Makassar untuk ditangani.

“Iya, (ketahuan) akhir Juli 2020. Saya lupa tanggal 28 atau 29. Yang jelas melapor tanggal 30 Juli 2020,” katanya.

“Setelah dari Polrestabes, baru kita cari pendampingan hukum dengan pendampingan dari P2TP2A. Pendampingan hukum kita dapat dari LBH Afik,” sambung E.

E menjelaskan, tempat pengajian pelaku berada di tengah-tengah pemukiman para warga yang terletak di Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Anak-anak di sana, biasanya pergi mengaji dengan diantar orang tua maupun berangkat sendiri.

Meski letaknya tak jauh dari pemukiman, E memastikan bahwa hubungan antara pelaku dan cucunya yang jadi korban pencabulan tersebut sama sekali tidak ada ikatan kekeluargaan.

“Saya juga tidak tahu kan siapa-siapa muridnya di situ. Yang saya tahu itu kalau saya dengan guru mengaji tidak ada hubungan keluarga. Hanya hubungan antara guru dengan murid saja kalau cucuku ini,” jelas E.

Selama mengajar, katanya, pelaku sama sekali tidak menampakkan kecurigaan. Bahkan, pelaku pun dikenal sebagai orang alim dan sering menjalankan ibadah shalat di masjid bersama para warga di sana.

“Iya, pelaku rajin ke masjid, semua bapak-bapak di sini rajin ke masjid. Jadi tidak bisa kita bandingkan jadi sama dengan yang lain. Kalau saya begitu, (tidak ada kecurigaan) pendapat pribadiku ya. Tidak tahu kalau pendapatnya orang lain,” katanya.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestabes Makassar AKP Ismail mengatakan, dalam penanganan kasus dugaan pencabulan ini, sudah ada tiga orang korban yang melapor secara resmi di Mapolrestabes Makassar. Mereka adalah JF (9), KNF (10), dan AAM (9).

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kata Ismail, sebagian korban mengaku sudah lebih dari satu kali dicabuli oleh AN.

Guru mengaji yang telah mengajar selama setahun itu, mencabuli muridnya dengan menyentuh alat vital korban.

“Sebagian korban mengatakan bahwa dia sudah lebih dari satu kali. Itu kan bisa membuat anak-anak menjadi trauma atau seperti apa ya. Tapi itu nanti akan dijelaskan dalam bentuk laporan psikolog. Jadi semua kita tunggu hasilnya,” ujar Ismail.

Sementara pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum Makassar Nur Akifah selaku pendamping korban mengungkapkan agar aksi pencabulan tersebut tidak diketahui, pelaku memakai modus dengan memberikan uang jajan kepada korban. 

Hal ini dilakukan AN, agar para korban tidak menceritakan kejadian itu kepada orang lain. Terutama kepada orang tua korban.

“Kemarin waktu ibunya saya ambil keterangannya di kantor itu, katanya dikasihkan uang Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, kadang juga tidak dikasih setelah kejadian itu. Mungkin karena ketidakpahaman anak-anak apa sih yang terjadi, hanya uang jajan saja sudah ini cukup,” kata Akifah.

Dari kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oknum guru mengaji ini, dikabarkan sudah ada 6 anak yang menjadi korban.

“Kalau menurut keterangan dari infonya kemarin yang ada di kantor ada sekitar 6 anak

– Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar, Tenri A Palallo mengampaikan telah menangani dugaan kasus pencabulan yang dilakukan oknum guru mengaji terhadap anak-anak di Jalan Batara Bira, Kompleks PU, Kelurahan Pai, Kecamatan Biringkanayya.

“Adanya dugaan pencabulan yang dilakukan. Sudah jalan ini, dalam proses penyidikan,” kata Tenri, Sabtu, 8 Agustus 2020.

Tenri A Palallo mengatakan, pihaknya bekerja secara senyap dalam menangani kasus tersebut lantaran pelakunya belum ditetapkan tersangka. Saat ini baru sebatas dugaan.

“Cuma kita tidak ribut-ribut ke media karena baru terduga,” kata dia.

Menurut Tenri, pihak berwenang yang akan memutuskan untuk memberi klaim pelecehan atau tidak. 

“Makanya sudah dirujuk ke Polisi dan dalam proses. Polisi dalam proses pendalaman,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Direktur LBH APIK Sulsel Rosmiati Sain mengatakan pihaknya telah melakukan pendampingan terhadap kasus tersebut. 

“Kemarin kami sudah melaporkan dan sudah masuk ke Unit PPA Polrestabes Makassar yang khusus menangani perempuan dan perlindungan anak,” kata dia.

“Hari ini diminta keterangan korban untuk BAP,” sambungnya kemudian.

Ros, sapaanya, menduga ada banyak korban pencabulan yang dilakukan oleh oknum tersebut. Saat ini, kata dia, baru satu yang melapor ke pihaknya.

Ros menyebut, bagi mereka yang menjadi korban dari kasus tersebut agar melakukan pelaporan ke pihak kepolisian. 

“Kalau ada korban di luar dari yang melapor agar mengadukan hal tersebut agar menguatkan bukti pelaporan dan memberi penekanan ke pelaku,” kata Ros.

Ia meminta agar korban tak merasa takut untuk melakukan pelaporan. Saksi dan korban akan mendapatkan perlindungan hukum. 

“Jangan takut melapor, saksi dan korban tetap akan dilindungi,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi D DPRD Kota Makassar Abdul Wahab Tahir ikut mengecam tindakan pelecehan seksual tersebut.

Wahab mendorong aparat kepolisian untuk menuntaskan kasus tersebut secepatnya. Bila terbukti, ia meminta pelaku mendapatkan hukuman berat. 

“Innalilahi wainnailaihi Raji’un, harus dihukum berat itu. Kalau itu terbukti saya minta aparat kepolisian menjatuhkan hukuman berat terhadap pelaku,” kata Wahab.

Menurut Wahab, anak-anak harus mendapatkan perlindungan. Pasalnya, mereka adalah aset dan sekaligus masa depan bangsa ini.

Wahab meminta polisi melakukan penyelidikan dan penyidikan hingga kasus tersebut tuntas. Sehingga, kata dia, hal itu tak terulang kembali.

“Kita berharap kepolisian melakukan pengusutan tuntas sehingga semua pihak mendapatkan kebenaran dan keadilan,” pungkasnya.

Nenek Korban Ngamuk

Sebelumnya, oknum guru ngaji tersebut, yakni AN (60), dilabrak orang tua murid di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, setelah diduga mencabuli sejumlah anak yang menjadi muridnya.

Bahkan, ibu korban yang emosi mengetahui hal itu langsung mendatangi rumah AN. Ibu korban mengamuk dan menyerang pelaku serta meminta aktivitas pengajian yang dilakukan AN diberhentikan.

“Si ibu langsung lapor ke RW, terus ditemani sama RW ke rumahnya terduga pelaku. Di sana diseranglah, karena ibunya dalam keadaan emosi. Sudah tidak mengajar. Pak RW sudah menghentikan kegiatannya itu,” kata E, nenek salah satu korban seperti dikutip dari Suara.com, Sabtu 8 Agustus 2020.

E menceritakan, kasus pencabulan tersebut awalnya diketahui ibu korban pada akhir Juli 2020.

Itu pun lantaran ibu korban mencurigai perilaku anaknya yang tidak mau lagi pergi ke tempat pengajian AN.

Padahal, kata dia, hari-hari sebelumnya, cucu nenek E tersebut tampak begitu rajin dan bersemangat untuk belajar mengaji.

Melihat hal itu, ibu korban kemudian berusaha membujuk anaknya agar dapat pergi mengaji.

Hanya, bujukan ibu korban tidak membuahkan hasil. Anak korban tegas menolak permintaan ibunya, dengan alasan telah dicabuli AN yang tak lain adalah guru mengajinya sendiri.

“Iya berubah perilakunya. Kan dia masuk mengaji di situ satu minggu. Pas setelah satu minggu, dia tidak mau pergi mengaji,” kata dia.

“Pertamanya dia semangat pergi mengaji. Tidak ada masalah, tenang-tenang saja, kenapa tiba-tiba berubah? Kenapa ini anakku? Ada apa? Bertanyalah ibunya. Dibujuk-bujuk sama ibunya, anaknya mengaku bilang saya dicabuli seperti itu,” E menambahkan.

E mengakui belum dapat memastikan berapa banyak anak yang sudah jadi korban pencabulan pelaku.

Alasannya, anak-anak yang belajar mengaji di tempat AN banyak yang trauma sehingga tidak mau bicara.

“Jumlah pastinya tidak bisa kita sebut ya, karena banyak yang tidak mau bicara gitu. Iya (trauma), jadi kalau mau pastinya itu, tadi yang lapor. Tapi kalau misalnya dugaan saja ada belasan,” ungkap E.

E mengemukakan, awalnya kasus dugaan pencabulan tersebut di laporkan ke Polsek Biringkanaya.

Akan tetapi, karena di sana tidak memiliki Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), kasus tersebut akhirnya dilaporkan ke Polrestabes Makassar untuk ditangani.

“Iya, (ketahuan) akhir Juli 2020. Saya lupa tanggal 28 atau 29. Yang jelas melapor tanggal 30 Juli 2020,” katanya.

“Setelah dari Polrestabes, baru kita cari pendampingan hukum dengan pendampingan dari P2TP2A. Pendampingan hukum kita dapat dari LBH Afik,” sambung E.

E menjelaskan, tempat pengajian pelaku berada di tengah-tengah pemukiman para warga yang terletak di Kecamatan Biringkanaya, Makassar.

Anak-anak di sana, biasanya pergi mengaji dengan diantar orang tua maupun berangkat sendiri.

Meski letaknya tak jauh dari pemukiman, E memastikan bahwa hubungan antara pelaku dan cucunya yang jadi korban pencabulan tersebut sama sekali tidak ada ikatan kekeluargaan.

“Saya juga tidak tahu kan siapa-siapa muridnya di situ. Yang saya tahu itu kalau saya dengan guru mengaji tidak ada hubungan keluarga. Hanya hubungan antara guru dengan murid saja kalau cucuku ini,” jelas E.

Selama mengajar, katanya, pelaku sama sekali tidak menampakkan kecurigaan. Bahkan, pelaku pun dikenal sebagai orang alim dan sering menjalankan ibadah shalat di masjid bersama para warga di sana.

“Iya, pelaku rajin ke masjid, semua bapak-bapak di sini rajin ke masjid. Jadi tidak bisa kita bandingkan jadi sama dengan yang lain. Kalau saya begitu, (tidak ada kecurigaan) pendapat pribadiku ya. Tidak tahu kalau pendapatnya orang lain,” katanya.

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak Polrestabes Makassar AKP Ismail mengatakan, dalam penanganan kasus dugaan pencabulan ini, sudah ada tiga orang korban yang melapor secara resmi di Mapolrestabes Makassar. Mereka adalah JF (9), KNF (10), dan AAM (9).

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kata Ismail, sebagian korban mengaku sudah lebih dari satu kali dicabuli oleh AN.

Guru mengaji yang telah mengajar selama setahun itu, mencabuli muridnya dengan menyentuh alat vital korban.

“Sebagian korban mengatakan bahwa dia sudah lebih dari satu kali. Itu kan bisa membuat anak-anak menjadi trauma atau seperti apa ya. Tapi itu nanti akan dijelaskan dalam bentuk laporan psikolog. Jadi semua kita tunggu hasilnya,” ujar Ismail.

Sementara pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum Makassar Nur Akifah selaku pendamping korban mengungkapkan agar aksi pencabulan tersebut tidak diketahui, pelaku memakai modus dengan memberikan uang jajan kepada korban. 

Hal ini dilakukan AN, agar para korban tidak menceritakan kejadian itu kepada orang lain. Terutama kepada orang tua korban.

“Kemarin waktu ibunya saya ambil keterangannya di kantor itu, katanya dikasihkan uang Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, kadang juga tidak dikasih setelah kejadian itu. Mungkin karena ketidakpahaman anak-anak apa sih yang terjadi, hanya uang jajan saja sudah ini cukup,” kata Akifah.

Dari kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oknum guru mengaji ini, dikabarkan sudah ada 6 anak yang menjadi korban.

“Kalau menurut keterangan dari infonya kemarin yang ada di kantor ada sekitar 6 anak

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Usai Isolasi Mandiri 14 Hari, Bupati dan Ketua TP PKK Jeneponto Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Mahfud Md Sebut Nonton Film G30S/PKI Tak Dilarang: Semalam Saya Tonton di Yuotube

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar