Fahri-Fadli Zon Dapat Penghargaan, Begini Respons Kekecewaan Seword-Denny Siregar

Terkini.id, Jakarta – Dua tokoh yang dikenal kritis terhadap pemerintah, yakni Fahri Hamzah dan Fadli Zon, akan mendapat penghargaan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

Pemberian penghargaan tersebut pun diwarnai ungkapan kekecewaan para simpatisan Jokowi di media sosia. Di antaranya Denny Siregar hingga Seword.

Untuk diketahui, Menko Polhukam Mahfud MD sebelumnya menyempaikan Presiden Jokowi akan memberikan bintang tanda jasa kepada beberapa tokoh dalam berbagai bidang.

Scroll ke Bawah untuk melanjutkan

“Dlm rangka HUT Proklamasi RI ke 75, 2020, Presiden RI akan memberikan bintang tanda jasa kpd beberapa tokoh dlm berbagai bidang. Fahri Hamzah @Fahrihamzah dan Fadli Zon @fadlizon akan mendapat Bintang Mahaputra Nararya. Teruslah berjuang utk kebaikan rakyat, bangsa, dan negara,” demikian cuit Mahfud di akun Twitter-nya, @mohmahfudmd, Senin 10 Agustus 2020.

Diketahui, Fahri Hamzah merupakan mantan wakil DPR RI. Dia adalah mantan politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kini, Fahri merupakan wakil ketua umumPartai Gelora.

Sementara, Fadli Zon juga merupakan mantan wakil ketua DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra. Dia saat ini masih menjadi anggota DPR RI, dan merupakan orang dekat Prabowo Subianto.

Fadli maupun Fahri, merupakan dua orang yang selalu keras mengkritisi pemerintahan Jokowi, dan berada di barisan pendukung Prabowo-Sandi pada Pilpres 2020 lalu.

Mengetahui rencana pemberian penghargaan tersebut, simpatisan Jokowi di media sosial mengungkapkan rasa kekecewaannya.

Salah satunya Denny Siregar, yang mengkritisi Mahfud MD. Dalam tulisannya yang berjudul “Nyinyir Doang Eh Dapet Bintang” di media sosial, Denny mempertanyakan mengapa Mahfud MD dengan bangga mengumumkan bintang tanda jasa kepada “Duo F” tersebut.

Denny menyampaikan, dirinya sendiri mau tidak mau harus menerima penghargaan bintang tanda jasa tersebut disematkan kepada Fahri dan Fadli Zon.

Hal itu lantaran siapapun yang pernah menjadi ketua atau wakil ketua negara dan menyelesaikan masa periode jabatan, otomatis dapat tanda bintang sesuai aturan.

“Jadi mau tidak mau kita terima aja, meski sesek rasanya di dada ketika sebuah bintang Mahaputra harus disematkan bukan karena maknanya, tapi karena begitu bunyi aturannya.

Cuma yang harus saya kritik, kenapa Prof Mahfud MD seperti dengan bangga mengumumkannya ya ? Mungkin benar kata Jokowi, kalau banyak Menterinya yang tidak punya sense of crisis, termasuk tidak punya sensitivitas pada situasi. Tidak perduli apakah yang dia nyatakan ke publik itu melukai hati banyak orang.

Yah, politik itu sebenarnya banyak humornya. Jadi kita anggap aja itu lawakan belaka, sebuah pemberian penghargaan dalam bentuk parodi. Jangan sensi-sensi amat,” tulisnya.

Sementara itu, website seword menyebut Fadli dan Fahdi mendapat penghargaan bintang jasa Jalur Provokasi.

Kakak Pembina Seword, Alifurahman, menuliskan, alasan pemberian penghargaan kepada Duo F tersebut di atas masuk akal. 

“Meski sebenarnya saat jadi pimpinan DPR, kerjanya cuma nyinyir. Tak lebih buruk dari tukang sayur yang merangkap ahli gosip. Bahkan keduanya ikut memprovokasi kasus kebohongan operasi plastik Ratna Sarumpaet,” tulis Alifurahman.

“Dengan catatan hitam seperti itu, rupanya Presiden Jokowi tetap memberikan penghargaan kepada Fadli dan Fahri. Entah melupakan semua yang sudah dilakukan oleh keduanya -yang jelas-jelas memprovokasi dan membuat onar- atau karena ingin merangkul kelompok oposisi demi penguatan posisi politiknya.

Dari saya, sederhana saja. Ini tidak masuk akal. Tidak sepantasnya. Tidak ada aturan dan kewajiban bagi Presiden memberikan penghargaan semacam itu.

Bahwa semua catatan buruk tentang keduanya tak dapat menghapus ‘jasa’ pernah menjadi pimpinan DPR, apakah itu artinya Presiden Jokowi juga akan memberikan penghargaan bintang jasa kepada Setya Novanto? Bukankah Papa Setnov juga pernah jadi pimpinan DPR?

Bukankah itu artinya, sekalipun pernah jadi pimpinan DPR, tidak secara otomatis bisa mendapat penghargaan? Lagipula apa urgensinya? Apa pentingnya Fadli dan Fahri secara politik? Bukankah Gerindra sudah berkoalisi dan Fahri sudah membentuk partai baru kontra PKS,” tulisnya lagi.

Menurut dia, hal-hal remeh tidak penting seperti ini justru memperkeruh penilaian para relawan yang tanpa tanda jasa dan tanpa jabatan komisaris.

“Saya ikut memahami kekesalan sejumlah relawan. Meskipun mereka ragu-ragu untuk menyampaikan atau menyatakan sikap. Karena sebelum rencana penghargaan bintang kepada Fadli dan Fahri, relawan sudah cukup kecewa dengan serangkaian ulah para menteri.

Menteri pertanian yang bikin kalung corona, ekspor lobster, menteri agama yang bungkam soal intoleransi, menkominfo yang tak paham teknologi, menteri pertahanan yang disuruh ngurus pertanian, Menko Muhadjir yang konsisten mencemooh rakyat miskin, menteri BUMN yang sibuk dengan narasi akhlak dan kepala KSP yang terus berduel dengan relawan.

Penempatan posisi komisaris pun banyak yang aneh. Mulai dari menempatkan orang-orang anti Jokowi, orang yang sedang berkasus dan bahkan punya catatan mendukung aksi radikalisme di Indonesia. Tentu saja, penempatan mereka secara otomatis menggeser para relawan,” tambahnya.

Penjelasan Mahfud MD

Melihat besarnya kritik di media sosial, Mahfud MD pun memberi penjelasan rinci.

“Bisa dijelaskan bahwa pemberian bintang Mahaputra kepada Fadli Zon dan Fahri Hamzah adalah sesuai dengan peraturan yang berlaku. Mantan Ketua/Wakil Ketua lembaga negara, mantan menteri dan yang setingkat mendapat bintang jasa seperti itu jika selesai tugas dalam satu periode jabatan,” tulisnya di media sosial.

Bahkan (sebelum ada masalah hukum) mantan pejabat seperti Irman Gusman, Surya Darma Ali, Jero Wacik dll sudah dianugerahi bintang tersebu. Pemerintah tidak boleh tidak memberikan tanpa alasan hukum. Jika bintang jasa tidak diberikan terhadap orang kritis, berarti pemerintah mempolitisasi hak orang secara unfair,” jelas dia. lagi.

Beberapa Tokoh Dapat Bintang Jasa

Lebih lanjut, Mahfud MD mengungkapkan beberapa tokoh yang mendapat bintang mahaputra pada 2020 ini.

“Yang mendapat bintang Mahaputra pada Agustus ini ada banyak. Ada Hatta Ali, Faruk Mohamad, Suhardi Alius dll. Ada juga bintang jasa kepada 22 tenaga medis yang gugur karena menangani Covid-19. Ada bitang pelopor, penegak demokrasi dll. Bulan November bisa ada gelar pahlawan. Semua ada UU-nya,” pungkas Mahfud MD.

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Usai Isolasi Mandiri 14 Hari, Bupati dan Ketua TP PKK Jeneponto Dinyatakan Sembuh dari Covid-19

Mahfud Md Sebut Nonton Film G30S/PKI Tak Dilarang: Semalam Saya Tonton di Yuotube

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar