Serang Pribadi Asisten VDB, Pemilik Akun FB Ini Dilaporkan ke Polisi

Asisten VDB
Asisten VDB polisikan pemilik akun FB penyebar ujaran kebencian/ Ist

Terkini,id.Toraja – Asisten Cawabup Tana Toraja petahana, Victor Datuan Batara (VDB), Enos, resmi mempolisikan sejumlah akun media sosial Facebook yang diduga mengunggah dugaan fitnah fitnah penganiayaan. 

Tindakan yang dilakukan asisten calon wakil bupati Tana Toraja nomor 2 ini resmi melaporkan ke Polres Tana Toraja, Sabtu, 21 November 2020.

Enos mengaku dirugikan dan nama baiknya tercemar atas postingan sejumlah akun yang menuding dirinya sebagai pelaku penganiayaan.

Menarik untuk Anda:

Laporan Enos diterima di ruang sentra pelayanan kepolisian (SPK) Polres Tana Toraja dan dilanjutkan pengambilan berita acara pemeriksaan (BAD) di ruang tindak pidana tertentu (tipiter).

“Saya dirugikan atas postingan tersebut. Saya difitnah melalui postingan di Facebook yang menyebut saya menganiaya saudara Padang. padahal, saya ada di rumah. Malahan saya sedang tidur dan tiba-tiba ada tuduhan yang ramai di medsos,” ungkap Enos di Polres Tana Toraja sore tadi.

Enos melaporkan sejumlah akun yang memosting dugaan fitnah tersebut, di antaranya akun sandabunga, akun Erwin Mappadang, akun Tato Ajaa, dan akun merda mangajun yang ikut membagikan postingan tersebut.

Salah satu dari akun tersebut, pemiliknya diduga istri seorang anggota DPRD Tana Toraja, KL.

Enos berharap agar Polres Toraja bertindak tegas terhadap pemilik akun itu atas dugaan fitnah terhadap dirinya.

“Saya berharap agar aparat bertindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku agar dapat memberi efek jera terhadap terlapor. Sebisa mungkin pemilik akun palsu ditelusuri siapa pemiliknya,” katanya.

Selain akun yang diduga palsu, beberapa akun yang diduga asli juga dilaporkan, yakni akun Erwin Mappadang dan akun merda mangajun yang membagikan postingan itu.

Sebelumnya pada Jumat 20 November 2020 malam, terjadi dugaan penganiayaan terhadap Padang. 

Namun, seketika sejumlah postingan yang nyaris bersamaan dari beberapa akun menuding Enos sebagai pelaku penganiayaan terhadap Kadang.

Akun-akun tersebut bahkan terang-terangan memasang menyebut nama dan foto Enos berdampingan dengan korban yang terluka di bagian mata sebelah kiri.

Postingan inilah yang membuat Enos keberatan dan merasa difitnah. Saat itu pula, Enos langsung mendatangi kantor polres untuk klarifikasi dan dipertemukan dengan korban.

Pada kesempatan itu, korban sendiri membantah jika Enos adalah pelaku penganiayaan terhadap dirinya. 

Korban mengaku dianiaya kerabatnya di Terminal Makale dan saat ini sudah ditahan di Polres Tana Toraja.

Enos juga mengaku menyesalkan tindakan sejumlah pemilik akun yang mengaitkan dirinya dengan narasi negatif dengan VDB yang merupakan cawabup Tana Toraja di Pilkada 2020.

VDB maju di pilkada berpasangan dengan Cabup Nicodemus Biringkanae (NIVI). 

Sementara itu, salah satu kuasa hukum NIVI, Kurniawan, menyebutkan jika terlapor dalam kasus ini terancam dengan Pasal 27 ayat 3 UU ITE yang berbunyi: Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.
 
Sedangkan bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah sebagai berikut: Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
 
Ancaman pidana bagi orang yang melanggar Pasal 27 ayat (3) UU ITE ini diatur dalam Pasal 45 ayat (3) UU 19/2016, yang berbunyi:
 
Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).
 
Kemudian ancaman pidana bagi orang yang melanggar ketentuan Pasal 28 ayat (2) UU ITE, adalah sebagaima diatur dalam Pasal 45A ayat (2) UU 19/2016, yakni:
 
Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Tutup Masa Kampanye, Askar HL-Arum Spink Hadiri Undangan Komunitas Mobil

Empat Hari Jelang Pencoblosan, Gelombang Dukungan ke TSY-AM Tak Terbendung

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar