Postingan Haru Nurwahyuni, Kumpulkan Kardus untuk Dijual hingga Sukses Sarjana

Mahasiswi UIN Alauddin Makassar viral usai berfoto di makam kedua orangtuanya saat wisuda. (Foto: Kumparan)

Terkini.id, Makassar – Seorang mahasiswi yatim piatu di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Nurwahyuni Cole (23), memberi kabar inspiratif bagi siapa saja yang mengeluh akan kehidupannya.

Nurwahyuni awalnya menjadi viral karena postingannya memakai toga dan pakaian wisuda berfoto di makam kedua orang tuanya.

Kini, diketahui Nurwahyuni bukan cuma seorang yatim piatau. Dengan keterbatasan yang dia miliki, Nurwahyuni sukses membuktikan bahwa dirinya juga bisa kuliah hingga selesai, dengan menggunakan uang hasil kumpul-kumpul kardus untuk dijual.

Menarik untuk Anda:

Gadis asal Desa Lempangang, Kabupaten Gowa ini diketahui saat ini cuma tinggal bersama seorang kakaknya.

Nurwahyuni mengaku berfoto di makam kedua orangtuanya untuk dapat merasakan momen bahagia kelulusannya saat wisuda tersebut.

Dia pun menyampaikan bahwa sampai hari ini dirinya belum percaya bisa menyelesaikan jenjang pendidikannya di kampus UIN Alauddin Makassar.

“Sampai sekarang pun saya sendiri masih belum percaya kalau saya bisa selesaikan kuliah saya,” ujar Uni, sapaan akrab Nurwahyuni saat dihubungi terkini.id, Sabtu 26 September 2020.

Pasalnya, kata Uni, perjuangannya demi bisa kuliah tidaklah mudah lantaran keterbatasan finansial.

Oleh karenanya, ia rela bekerja pulang malam dan mengumpulkan kardus bekas untuk menambah pendapatannya demi biaya kuliah.

“Saya kalau pulang kerja malam karena saking butuhnya uang. Karena saking maunya kuliah, saya kumpul-kumpul kardus bekas gitu, terus hasilnya itu saya kumpulin untuk pendaftaran kuliah,” cerita Uni.

Terkait kelulusannya, Uni pun mengaku sangat bersyukur meskipun tak lagi memiliki orangtua namun ia masih memiliki Allah SWT.

Hal itu ia ungkapkan lewat unggahannya di akun Instagram miliknya, @unii_nurwhynii pada Agustus lalu.

Berikut postingan mengharukan Nurwahyuni Cole:

Senin, 24 Agustus 2020.

Alhamdulillah S.Hum?

Menikah menurut mereka adalah jalan keluar untuk saya pada saat itu, tapi saya berpikir itu bukan satu2nya jlan, maka kupilih jalanku sendiri. Saya mengambil keputusan untuk kuliah, yah walaupun sempat nganggur setahun dan keputusanku itu tidak direstui oleh mereka, yah saya tau alasan mereka apa.

Saya kuliah hanya bermodalkan keyakinan dan kemauan. Saya memang tdak punya orangtua, tapi sya masih punya Allah.

MasyaAllah untuk semua perjuangan, usaha, kerja keras, dan doa. Dan Alhamdulillah untuk pencapaian sampai dititik ini.

Terimah kasih untuk jiwa yg kuat selama ini. Wajah yg selalu tersenyum dibalik banyaknya masalah yg datang, kaki yg selalu siap jalan kaki, dari ujung jlan A sampai ujung jalan Z, terimah kasih krna tdak pernah lelah.

Terimah kasih Tuhan, Saya memang tak seberuntung mereka tapi saya beruntung diberi jiwa yg kuat darimu.

Terimah kasih Alm Bapak dan Almrh Mama, saya bangga menjadi anak kalian, walau kalian berdua tidak ada disampingku melihat perjuanganku selama ini, tapi saya sudah membuktikan pada kalian bahwa anak perempuan mu ini bisa.

Saya juga bisa sampai ditahap ini berkat campur tangan dri orang-orang baik di sekelilingku. Terimah kasih banyak dariku.

Seorang anak yg tidak punya orangtua yang selama ini orang lain katakan padaku bisa membuktikan, bahwa “Anak yatim piatu” sepertiku bisa menyelesaikan kuliahnya.

Sarjana dan Ipk memang tidak menjamin kesuksesan, tetapi semua itu memiliki peluang untuk mendapatkan kesuksesan. Tiap orang memiliki keberuntungannya masing2.Dan sya percaya itu.

Selama ada kemauan dan dibarengi dengan usaha dan doa, yakin saja pertolongan Allah akan datang.
Yakin bahwa “orang yg berikhtiar akan mendapatkan jalan yg terang”.

Postingan mengharukan mahasiswi UIN Makassar, Nurwahyuni Cole. (Foto: Instagram @unii_nurwhynii)

Sebelumnya, Uni mengungkapkan bahwa dirinya harus bekerja keras sejak duduk di bangku sekolah dasar untuk mendapatkan uang.

“Bapak saya meninggal waktu saya kelas 3 SD. Semenjak kelas 4 SD sampai tahun 2016 itu saya kerja di toko. Jadi di toko saya yang bantu-bantu, bungkusin gula, begitu. Pas saya kelas 2 SMA, tahun 2014, ibu saya meninggal,” ujar Uni seperti dikutip dari kumparancom, Kamis, 24 September 2020.

Selain kesulitan dari segi biaya, ia juga harus berjuang untuk menempuh perjalanan ke kampus dan pulang.

Uni diketahui harus menempuh jarak jauh dengan berjalan kaki untuk ke kampusnya di UIN Alauddin Makassar.

“Sewaktu kuliah, waktu mahasiswa baru sampai sekarang pun kalau pulang dari kampus atau mau ke kampus biasanya jalan kaki,” ujar Uni.

“Jaraknya gatau ya, lumayan pokoknya. Kadang kalau ada uang, naik angkutan ke kampus. Kalau uangnya enggak cukup, saya puasa,” sambungnya.

Namun, dengan semangat dan perjuangan kerasnya akhirnya ia bisa menyelesaikan pendidikannya dan lulus dari Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adat dan Humaniora, UIN Alauddin Makassar. Bahkan, ia berhasil lulus dengan peringkat lima besar sefakultas.

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Pernah Menangkan NA di Pilgub, Kini Komunitas Sahabat2NA APPI Dukung Appi-Rahman

Diduga Terlibat Penyuka Sesama Jenis, Satu Jenderal Polri Diperiksa Propam

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar