Idul Fitri dan Fitrah Cinta

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

Tulisan edisi 30 ini merupakan penutup Kolom Ramadan 1441 H. Perayaan Idul Fitri merupakan rangkaian paripurna dari amaliah Ramadan.

Umat Islam, bersama-sama keluarga tercinta menunaikan shalat idul fitri sebagai penanda penyucian jiwa setelah ditempah selama Ramadan sekalipun hanya dilakukan di rumah.

Kembali pada kesucian diri dengan raihan pengampunan dosa serta limpahan pahala sebagai investasi akhirat.

Idul fitri ini menjadi ajang kembali pada fitrah-fitrah manusia. Manusia memiliki fitrah bertuhan, fitrah beragama sebab manusia tidak bisa hidup tanpa agama, tanpa Tuhan.

Manusia juga memiliki fitrah cinta. Dalam ulasan sebelumnya, puluhan tulisan itu mendaras cinta yang dilantunkan pada kaum sufi. Sebut Rabiah Adawiyah, Imam Al-Ghazali, Abdul Qadir Jailani, Ibn Arabi hingga Rumi yang semua mengenalkan cinta abid pada sang pemilik cinta, Allah Swt.

Baca juga:

Fitrah cinta berpijak pada dimensi filosofisnya bahwa cinta adalah fitrah manusia. Tepatnya, cinta adalah sebuah fitrah yang diberikan Allah Swt kepada manusia.

Bahkan setiap makhluk dikaruniai cinta dalam takarannya masing-masing sehingga setiap makhluk di muka bumi ingin memiliki apa yang dicintainya, ingin kekasih hatinya itu menjadi pasangan hidupnya beralas cinta yang tumbuh dari benih rasa.

Atas karunia cinta inilah diharapkan setiap manusia merawatnya agar setiap kata dan lakunya berpijak nilai-nilai cinta itu.

Bukankah sehari-hari kita disesaki seliweran caci maki, saling menyalahkan terutama di media sosial, lebih banyak menghardik daripada mendidik. Karenanya di momen idul fitri, setiap pribadi kembali mengasah cintanya sebagai fitrah untuk menebar kedamaian-kedamaian ditengah ancaman pandemik Covid-19 ini.

Mengembalikan fitrah cinta di hari yang fitri, idul fitri. Sekalipun lebaran di rumah, melalui media sosial kita haturkan kata maaf-memaafkan atas segala kekhilafan dan kesalahan, baik di lingkungan keluarga, tetangga dan sahabat-sahabat lainnya.

Lebaran tahun ini berbeda dengan sebelumnya, tidak ada tradisi mudik. Kerinduan tak terkira ingin menyatu bersama keluarga. Rindu memeluk orang tua, berjumpa sahabat lama serta keluarga lainnya.

Begitu juga impian anak-anak ingin berjumpa sepupu tak tertunaikan tahun ini. Tetapi hadirnya media sosial, mengobati kerinduan itu, dapat berjumpa keluarga di kampung atau sebaliknya. Saling menyapa berhalal bihalal meski terbatas.

Beridulfitri meresonansikan keshalehan personal setelah menapaki jejak-jejak ramadan sebulan penuh hingga memasuki syawal dengan merayakan lebaran idul fitri.

Resonansi kebersamaan menggambarkan khazanah Islam dan budaya masyarakat secara sosial makin kuat dan terjaga. Kehidupan keagamaan yang dibalut dengan kehidupan sosial menjadikan setiap umat Islam merayakan idul fitri sebagai momentum paripurna dari perjalanan ramadannya.

Perjalanan mendaras cinta yang fitrah untuk meraih cinta dan ridha-Nya, membalas pahala berlipat amaliah kita dengan doa pengharapan semoga dipertemukan kembali Ramadan tahun depan, insya Allah.

Keluarga Besar Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar mengucapkan Selamat Idul Fitri 1441 H, mohon maaf lahir batin.

Firdaus Muhammad

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel

Komentar

Rekomendasi

Rasisme itu Dosa Asal Amerika

Ekstrem Kanan dan Ekstrem Kiri di Amerika Serikat

Anarkis itu Suara yang Tak Terdengarkan

Hong Kong Konawe

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

>
Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar