Maulid Rasul, Ekspresi Kemanusiaan dalam Kerinduan

Maulid Rasul, Ekspresi Kemanusiaan dalam Kerinduan
Maulid Rasul, Ekspresi Kemanusiaan dalam Kerinduan

Terkini.id, Makassar – Secara khusus, kata maulid baik dalam Alquran maupun Hadis tidak wujud secara khusus.  Namun perintah untuk senantiasa melantunkan shalawat, itu bagian dari Alquran. 

Inilah dasar yang kemudian menjadi pandangan bahwa maulid adalah bagian dari keperluan masyarakat muslim. Juga sebagai sebuah ekspresi beragama dalam rangka melantunkan shalawat.  Adapun cara masing-masing orang merayakan maulid bergantung kepada lingkungannya masing-masing.

Di Sulawesi Selatan, bagi masyarakat Bugis ataupun Makassar,  perayaan maulid selalu diikuti dengan telur.  Dalam satu kesempatan di masyarakat Bugis kota Sorong Papua Barat,  semasa itu pengiriman telur terkendala dari luar kota Sorong.

Menarik untuk Anda:

Walhasil,  perayaan Maulid ditunda karena tidak adanya telur.  Sementara masjid yang lain berusaha melaksanakan maulid dengan mengganti telur menjadi buah-buahan.  Namun, animo dan antusiasme masyarakat untuk turut dalam perayaan maulid yang menggunakan buah-buahan itu tidaklah mendapatkan respon sebagaimana biasanya dari jamaah masjid.

Dengan situasi seperti ini, akhirnya satu masjid memutuskan untuk menunda perayaan maulid sampai kemudian tersedianya telur. Dari Kejadian ini bisa jadi adalah telur menjadi sandingan perayaan maulid.

Begitu pula, dalam satu kesempatan ketika saya berbincang ringan dengan putri saya,  sampailah pada kalimat maulid.  Kata yang pertama terucap dari mulutnya “berarti besok itu ada telur warna-warni”. 

Asosiasi pada ada telur dan juga maulid kemudian bisa dilihat pula pada perayaan paskah yang juga menggunakan telur.  Apa yang dapat kita maknai dari keberadaan telur itu adalah merupakan simbol kelahiran.

Maulid sendiri bisa jadi dapat diartikan sebagai kelahiran.  Walaupun secara khusus Rasulullah tidak pernah memerintahkan kita dengan kata Maulid.  Namun hadis memesankan bahwa ketika kita membaca shalawat maka jiwa Rasul akan dikembalikan dalam rangka menjawab shalawat yang dikirimkan kepadanya.

Maka, perayaan maulid sesungguhnya adalah sarana di dalam membaca shalawat itu.  Lantunan shalawat sesungguhnya adalah bahagian dari pada kecintaan kepada  baginda Rasul.

Telur,  makanan,  dan pernak-pernik lainnya,  semata-mata adalah bentuk ekspresi beragama saja.  Begitupula semasa perayaan Maulid dibaca lah syair-syair,  lagu,  dan juga qasidah,  semata-mata demi kesemarakan perayaan tersebut.

Di Sulawesi Selatan,  ada banyak lokasi yang dapat diasosiasikan dengan Maulid.  Dua diantaranya adalah Patte’ne di Maros dan Cikoang di Takalar.

Pada bulan Rabiul Awal,  para perantau akan pulang untuk merayakan Maulid baik di Takalar maupun di Maros.  Sekaligus merupakan kesempatan untuk bertemu dengan handai taulan di kampung masing-masing.

Makna Maulid tidak lagi sekadar sebagai kelahiran.  Tetapi juga merupakan panggilan Kerinduan bagi para perantau.  Mereka tidak memilih Idul Fitri sebagai masa untuk mudik. Namun, justru perayaan maulid yang menjadi tempat untuk kembali.

Kesempatan Maulid Baginda Rasul SAW,  menjadi ragam Kerinduan tidak saja kepada Kerinduan Rasulullah namun Kerinduan kepada kampung halaman dan juga keluarga yang ditinggal pergi.

Saat merayakan Maulid itu menjadi peluang untuk kemudian berkumpul dan bagi masyarakat Bugis ataupun Makassar berkumpul artinya makan-makan.  pada saat itulah kemudian ada songkolo,  telur,  dan juga hidangan lain yang akan tersaji sepanjang perayaan Maulid.

Maka Maulid hanyalah sekedar sebagai sarana untuk mempertemukan para keluarga,  wasilah untuk membaca salawat,  bagi individu tertentu ini adalah kesempatan untuk pulang.  Dimana dengan pulang itu akan menjadi di masa untuk merenung sebelum melanjutkan kembali  perjalanan kehidupan.

Maulid dapat juga berarti sebagai tempat berhenti. Mensyukuri atas limpahan anugerah Allah SWT.  Begitu pula bagi orang yang dilimpahkan rezeki,  ada kesempatan untuk turut berbagi dengan keluarga dan kampung halaman.

Akhirnya, dari maulid kita bisa menyaksikan bagaimana kesyukuran atas kelahiran juga tentang harapan, pulang, dan kebersamaan. Kesemuanya tentang kehidupan dan kemanusiaan. Adapun agama, sebagai bagian keperluan kemanusiaan yang mengiringi antara kelahiran dan kematian.

Ismail Suardi Wekke
Peneliti Senior eLSTUDIKA Indonesia 

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar