Memaafkan dan Dimaafkan

Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi) kolom firdaus muhammad
Firdaus Muhammad. (terkini.id/hasbi)

Memaafkan dan dimaafkan itu beda tapi sama sumbernya yakni hati. Amalan cukup berat adalah memaafkan, apalagi memaafkan sebelum orang yang salah itu meminta maaf.

Sebaliknya meminta maaf juga bukan perkara mudah, tidak ada jaminan sepenuhnya dimaafkan, setidaknya masih membekas. Maka kunci utama memaafkan dan dimaafkan itu adalah keikhlasan yang bersumber dari hati.

Yang terbaik adalah memberi maaf sebelum orang lain meminta maaf dan minta maaf setiap berbuat khilaf.

Memohon maaf menjadi tradisi lebaran, meski simbolik. Ada juga tren minta via media sosial. Substansinya sama sekalipun terasa kurang afdhal, apalagi diyakini ia mengirimkan ucapan yang sama pada banyak orang sementara tingkat kesalahannya berbeda-beda.

Salah satu tradisi pasca Ramadan adalah berhalal bihalal dijadikan ajang untuk memelihara silaturahim untuk saling maaf memaafkan. Namun saat ini silaturahim terbatas kecuali via daring akibat covid-19. Tradisi halal bihalal memancarkan dimensi spiritual dan sosial sekaligus.

Baca juga:

Menyadari selama kebersamaan dalam dunia kerja, acapkali terjadi peristiwa yang condong melahirkan kesalahpahaman sehingga perlu untuk saling memaafkan. Tentunya akan memiliki dampak psikologis kala semua elemen saling memaafkan.

Sisi menariknya, halal bihalal juga menjadikan seorang pimpinan dengan karyawannya menjadi setara, berbaur dengan penuh keterbukaan dan kekeluargaan. Peristiwa demi peristiwa selama berinteraksi senantiasa membuka ruang melakukan kesalahan, bahkan kadangkala dengan sengaja.

Maka tidak ada pilihan, kecuali saling memaafkan sehingga kelak di hari-hari selanjutnya tercipta situasi kerja yang kondusif.

Prof Quraish Shihab menjelaskan, bahwa halal bihalal merupakan dua kata mejemuk yang berarti diperkenankan dan lawan dari kata haram. Pesannya, setiap orang niscaya dituntut saling memaafkan dan yang terbaik diantara kedua orang yang berselisih atau berkonflik itu adalah diantara mereka yang lebih dahulu meminta maaf.

Sejenak kita bertanya, kenapa kondisi sekarang ini tampak sangat dominan orang saling menyudutkan, bully, atau menyalahkan. Seseorang melakukan hal baik saja, selalu dilihat sisi salahnya saja padahal niatnya pasti baik.

Namun nyatanya ada kesalahan tanpa sengaja sejatinya diperbaiki. Dimana-mana diumbar kemarahan dan makin hilang kemurahan. Sementara Allah Swt ingatkan untuk saling menasehati dalam hal kesabaran dan kebenaran.

Disinilah kita renungkan bahwa orang yang terbaik adalah mereka yang mampu memberi manfaat pada orang lain, bukan sebaliknya. Maka semestinya kita mulai dari diri kita untuk senantiasa memperbaiki, melihat sisi positif segala sesuatu, ketika salah seketika diperbaiki. Ketika salah dimaafkan lalu mendidiknya, bukan semata menyalahkannya.

Dipastikan, semakin intens interaksi seseorang dengan orang lain, maka potensi melakukan kesalahanpun semakin terbuka. Inilah saat yang tepat untuk saling memaafkan dan dimaafkan. Jadilah pribadi pemaaf dan pandai minta maaf!

Firdaus Muhammad,

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar dan Ketua Komisi Dakwah MUI Sulsel

Komentar

Rekomendasi

Rasisme itu Dosa Asal Amerika

Ekstrem Kanan dan Ekstrem Kiri di Amerika Serikat

Anarkis itu Suara yang Tak Terdengarkan

Hong Kong Konawe

Pesan-Pesan Ramadan dari New York

>
Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar