Pulang Kampung di Saat Pilkada

Imam Shamsi Ali dan Tomy Satria Yulianto/ ist

Setelah beberapa kali tertunda karena Covid 19, akhirnya saya kembali berada di Indonesia sejak tgl 19 Oktober ini. Tentu kepulangan saya kali ini tidak melupakan pula untuk kembali kampung halaman, Sulsel, termasuk di dalamnya mengunjungi daerah kelahiran saya Bukukumba.

Sesungguhnya kepulangan saya kali ini lebih banyak untuk urusan pribadi dan keluarga. Sehingga memang tidak ada penjadwalan formal. Hanya saja seperti biasa, ketika khalayak ramai mengetahui kehadiran saya di Indonesia akhirnya jadwal dengan sendirinya menjadi sangat padat. 

Namun yang menjadi unik kali ini adalah bahwa kepulangan saya juga bertepatan dengan masa kampanye para kandidat laga Pilkada di tahun 2020 yang direncanakan akan berlangsung pada tanggal 9 Desember 2020 mendatang.

Menarik untuk Anda:

Memang tradisinya kepulangan saya kerap diisi dengan silaturrahim kepada teman-teman, kerabat dan kekuarga, dekat maupun jauh, untuk bertukar pikiran tentang banyak hal termasuk situasi daerah dan negeri. 

Maka sangat wajar jika kunjungan atau silaturrahim kepada mereka yang Kebetulan menjadi kandidat memiliki nuansa dan pemaknaan politik dan dukungan. 

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apakah hal ini sesuai atau tidak sesuai? Benar atau salah? Diterima atau tidak? Beretika atau tidak? 

Tentu tergantung siapa yang memaknai dan memahaminya. Yang pasti saya sebagai pemegang KTP Indonesia tentunya juga punyak hak politik, termasuk menentukan pilihan kandidat dalam pertarungan pilkada saat ini. 

Calon Bupati Bulukumba 
Kunjungan saya ke Kajang sebenarnya hanya kunjungan pribadi untuk berziarah ke kuburan orang tua, sekaligus mengunjungi keluarga di kampung. 

Bagi saya menziarahi kuburan orang tua, untuk sekedar membacakan Al-Fatihah, menjadi bagian dari “ikromul walidaen” (memuliakan orang tua) itu sendiri. 

Akan tetapi, kehadiran saya di musim kampanye kali juga tidak disia-siaakan oleh beberapa kandidat yang berlaga dalam pilkada. Dan bagi saya seperti yang saya sebutkan tadi, silaturrahim menjadi bagian penting dari kunjungan saya.

Sehari sebelum kunjungan saya ke kampung, salah seorang calon bupati yang berlaga di Pilkada Bukukumba, Tomy Satria Yulianto berpasangan Andi Makkasau, menyampaikan bahwa beliau ada kegiatan rutin mingguan dzikir dan doa. Jika berkenan maka saya diundang untuk hadir dan menyampaikan tausiyah di acara tersebut. 

Terus terang awalnya saya menolak. Bukan karena isu pilkada. Tapi karena memang saya memprioritaskan kunjungan keluarga kali ini. Dan waktu saya sangat terbatas. Apalagi esok harinya saya akan bersama Gubernur Sulsel menghadiri acara Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Darul-Istiqamah Maccopa. 

Tapi akhirnya, saya terima  karena memang acara itu juga persis di saat saya harus kembali ke Makassar. 

Saya merasa sangat sesuai jika singgah di acara itu sekaligus silaturrahim dengan pasangan Tomy Satria Yulianto – Andi Makkasau atau yang lebih dikenal dengan pasangan “Kacamatayya”. 

Sejujurnya memang calon Bupati Tomy Satria Yulianto telah lama saya kenal. 

Selain karena beliau adalah Incumbent Wakil Bupati, juga karena telah pernah bertemu dan hadir dalam acara-acara yang juga saya hadiri di masa lalu. 

Saya menilai bahwa Tomy Satria Yulianto dan tentunya calon wakilnya adalah sosok yang bersahaja, ramah dan mudah bergaul. 

Ketika bertemu pertama kali sekejap seolah telah lama saling mengenal. 

Beberapa kali saya menyimak pidato penyambutannya sebagai Wakil Bupati beberapa waktu lalu. Hal yang saya rasakan bahwa beliau adalah pejabat muda yang menguasai masalah daerah dan dunia. 

Wawasan beliau adalah wawasan milennial yang sejalan dengan keadaan dunia yang cepat bergerak dan mengalami perubahan. 

Selain itu, dengan acara-acara rutin dzikir dan doa yang khidmat dan penuh kekhusyuan itu menandakan kedalam spiritualitàs seorang Tomi-Andi Makkasau. 

Kekuatan ruhiyah tentunya menjadi salah satu pilar bagi keamanahan dalam posisi publik. 

Saya juga semakin kuat memberikan dukungan kepada pasangan “Kacamatayya” karena ternyata teman saya, sealumni dan seangkatan di pesantren Gombara, Syafiuddin, yang juga anggota DPRD Bukukumba juga mendukungnya. 

Tapi yang terpenting dalam konteks kepulangan saya kali ini beliau penuh perhatian. Beliau ingin menampilkan bahwa sesama putra daerah kita saling menghargai, saling mendukung, saling tenggang rasa. 

Itulah sebabnya beliau harus merubah jadwal acara rutin itu ke waktu yang sesuai dengan kesempatan saya.

Saya tentunya berharap semoga warga Bulukumba dapat menentukan pilihannya secara demokratis, jujur dan independen. 

Tentu keterlibatan setiap warga dalam pilkada kali ini tidak lain karena didorong oleh semangat untuk mengantar Bulukumba menjadi daerah unggulan, maju dan kuat. 

Bulukumba dengan segala potensi yang dimilikinya, dari pertanian, perikanan, industri pelayaran, hingga kepada keindahan alam dan turisme, mampu menjadi daerah yang maju dan kuat. Bahkan mampu menjadi salah satu daerah percontohan di Sulsel dan Indonesia. 

Tapi semua ini memerlukan kepemimpinan (leadership) yang tangguh serta pengelolaan yang mumpuni, sungguh-sungguh dan profesional. 

Dan saya yakin, sesuai yang saya ketahui, pasangan “Kacamatayya” Tomi-Andi Makkasau memiliki kapabilitas dan potensi untuk itu. 

Apalagi memang Tomi telah menjabat sebagai Wakil Bupati Bulukumba pada periode ini. Tentu segala rinci permasalahan daerah telah dipahami dan dikuasainya.

Dan karenanya dengan pengalaman yang ada, akan mampu merumuskan program-program dan kebijakan yang sesuai. 

Selamat pasangan “Kacamatayya”. Lancar, sukses dan berkah di bawah naungan ridho dan rahmah Allah SWT. Amin! 

Makassar, 24 Oktober 2020 
Putra Kajang dan Imam di kota New York AS.

Rekomendasi

Mungkin Anda Suka

Debat Calon Bupati-Wakil Bupati Bulukumba: Tanggapan Putra Daerah

Tolak Politik Uang untuk Pilkada yang Bermartabat!

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar