Jejak Kepemimpinan PSMTI dari Tedy Jusuf hingga Wilianto Tanta, Empat Tokoh Bangun Persaudaraan dan Kebangsaan

Jejak Kepemimpinan PSMTI dari Tedy Jusuf hingga Wilianto Tanta, Empat Tokoh Bangun Persaudaraan dan Kebangsaan

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Jakarta – Perjalanan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) tidak terlepas dari kontribusi para ketua umum yang memimpin organisasi dari masa ke masa.

Sejak berdiri hingga penyelenggaraan Musyawarah Nasional (Munas) VIII PSMTI pada 4–6 September 2026, kepemimpinan organisasi terus berkembang dengan membawa semangat persatuan, persaudaraan, dan pengabdian kepada bangsa.

Jejak kepemimpinan tersebut tercatat melalui empat tokoh yang memegang posisi Ketua Umum PSMTI, yakni Brigjen TNI (Purn) Tedy Jusuf, Ir. Rachmat MS., MBA, David Herman Jaya, dan Wilianto Tanta.

Masing-masing ketua umum memiliki karakter kepemimpinan dan kontribusi yang berbeda, namun tetap berada dalam satu garis besar perjuangan, yakni memperkuat persatuan masyarakat Tionghoa Indonesia sekaligus memperkokoh komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tedy Jusuf, Meletakkan Fondasi PSMTI

Brigjen TNI (Purn) Tedy Jusuf menjadi Ketua Umum PSMTI pertama dan memimpin pada periode 1998–2009.

Sebagai tokoh militer dan pensiunan Brigadir Jenderal TNI, Tedy Jusuf berperan dalam meletakkan fondasi organisasi pada masa awal berdirinya PSMTI.

Kepemimpinannya diarahkan untuk membangun PSMTI sebagai wadah persatuan warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan dan kesetiaan kepada NKRI.

Semangat persatuan dan kesatuan menjadi salah satu pijakan penting dalam membangun identitas organisasi pada periode awal tersebut.

Rachmat MS Perkuat Struktur Organisasi

Tongkat kepemimpinan kemudian diteruskan oleh Ir. Rachmat MS., MBA pada periode 2009–2013.

Dengan latar belakang teknik dan manajemen, Rachmat membawa pendekatan yang lebih modern dan inklusif dalam mengembangkan organisasi.

Pada masa kepemimpinannya, PSMTI terus memperluas jangkauan organisasi dan memperkuat struktur kepengurusan di berbagai daerah.

Kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat dan instansi pemerintah juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan PSMTI di tengah masyarakat Indonesia.

David Herman Jaya, Perkokoh Persaudaraan

Periode 2013–2022 menjadi masa kepemimpinan David Herman Jaya.

Di bawah kepemimpinannya, PSMTI semakin diarahkan untuk memperkokoh persaudaraan antar-marga dan antar-daerah di Indonesia.

Kegiatan sosial dan kemasyarakatan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan organisasi. Berbagai kegiatan tersebut memperkuat posisi PSMTI sebagai organisasi yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan internal, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Kepemimpinan David Herman Jaya turut membawa PSMTI menjadi organisasi yang semakin mandiri, matang, dan diperhitungkan dalam kehidupan kebangsaan.

Wilianto Tanta, Membawa Semangat Pembaruan dan Kolaborasi

Wilianto Tanta kemudian dipercaya memimpin PSMTI untuk periode 2022–2026.

Pada periode ini, semangat pembaruan, keterbukaan, kolaborasi, persatuan, harmoni, dan kebersamaan menjadi bagian penting dalam arah kepemimpinan organisasi.

PSMTI juga terus memperkuat jaringan hingga tingkat kabupaten dan kota di berbagai wilayah Indonesia.

Kepemimpinan Wilianto Tanta turut menempatkan PSMTI dalam perspektif yang lebih luas, terutama dalam mempersiapkan kontribusi organisasi bagi pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

Munas VIII PSMTI yang berlangsung di Jakarta pada 4–6 September 2026 menjadi momentum penting untuk melanjutkan perjalanan kepemimpinan organisasi sekaligus menentukan arah PSMTI ke depan.

Kesinambungan Menjadi Kekuatan Organisasi

Ketua PSMTI Kecamatan Mandau, Duri, Bengkalis, sekaligus Ketua Koordinator Wilayah Provinsi Riau Gerbang Indonesia (GI), Gunawan, S.H., menilai perjalanan kepemimpinan PSMTI dari masa ke masa menunjukkan adanya kesinambungan dalam membangun organisasi.

Menurutnya, setiap kepemimpinan memiliki tantangan dan karakter tersendiri, tetapi tetap melanjutkan fondasi yang telah dibangun oleh para pendahulunya.

“Yang lalu adalah pelajaran, yang kini adalah amanah, yang mendatang adalah harapan bersama,” kata Gunawan.

Ia menyebut kesinambungan tersebut menjadi salah satu kekuatan PSMTI dalam menjaga persaudaraan dan memperluas kontribusi organisasi.

“Setiap ketua melanjutkan apa yang telah dibangun sebelumnya. Tidak memulai dari nol dan tidak memutus jalinan persaudaraan yang sudah ada. Semangat kebaikan terus diteruskan, semakin kuat dan semakin luas,” ujarnya.

Menurut Gunawan, perjalanan PSMTI juga memperlihatkan keterbukaan organisasi karena kepemimpinannya berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari militer, akademisi, pengusaha hingga profesional.

Hal tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa PSMTI memiliki ruang yang luas untuk membangun kebersamaan tanpa membedakan marga, profesi maupun asal daerah.

Dari Persaudaraan untuk Indonesia

Gunawan menegaskan, salah satu benang merah yang tidak berubah dalam perjalanan kepemimpinan PSMTI adalah komitmen terhadap NKRI.

“Dari ketua pertama hingga sekarang, semuanya berdiri tegak di bawah bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. PSMTI adalah organisasi warga negara Indonesia, untuk Indonesia, dan oleh Indonesia,” katanya.

Ia berharap Munas VIII PSMTI dapat menghasilkan kepemimpinan yang semakin kuat, bijaksana, dan mampu memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.

Ke depan, PSMTI diharapkan tidak hanya meneruskan warisan organisasi yang telah dibangun para pendahulu, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman dan meningkatkan kontribusi dalam pembangunan nasional.

“Bersambung, berkembang, dan berbakti dari masa ke masa. Semoga kepemimpinan berikutnya mampu meneruskan jejak luhur para pendahulu dan membawa PSMTI menuju kontribusi yang semakin besar bagi Indonesia Emas 2045,” tutur Gunawan.

Perjalanan empat ketua umum tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah panjang PSMTI dalam merawat persaudaraan, memperkuat kebersamaan, serta meneguhkan peran masyarakat Tionghoa sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia.

Kita kuat karena kita bersatu.