Tengku Zul Nilai Ade Armando Menggiring Opini Menjelekkan Jilbab, Kaitkan dengan Legalisasi Miras

Terkini.id, Jakarta – Tengku Zulkarnain menanggapi pernyataan Ade Armando beberapa waktu yang lalu terkait jilbab. Sebelumnya, Ade Armando memang pernah mengaitkan jilbab dengan skandal perselingkuhan Nissa dan Ayus Sabyan. Menurutnya, kasus Nissa Sabyan menunjukkan bahwa jilbab hanyalah gaya berpakaian.

Menurut Tengku Zul, pernyataan Ade Armando tersebut merupakan upaya menggiring opini jelek terkait jilbab yang merupakan syariat Islam.

“Ade Armando menggiring opini menjelekkan jilbab yang merupakan syariat islam dengan perilaku seseorang,” tulis Tengku Zul di akun twitter-nya @ustazdtengkuzul pada Selasa, 2 Maret 2021.

Tengku Zul lalu menyindir dengan bertanya apakah opini yang diberikan oleh Ade Armando dapat diberlakukan pada legalisasi miras.

“Terus bisakah digiring opini begini: ‘melegalkan miras membuktikan Islam KTP doang, itu memang ada!’ Gimana Bung @adearmando1? Hayya akal lusak lha,” lanjutnya.

Tengku Zul membagikan cuitan tersebut bersama sebuah gambar yang pernah diunggah di akun instagram Cokro TV pada 22 Februari 2021 lalu.

Dalam gambar tersebut terdapat tulisan ‘Kasus Nissa Sabyan menunjukkan jilbab itu hanya gaya berpakaian – Ade Armando.’

Sebagai informasi, sebelumnya Ade Armando memang pernah mengkritik terkait penyebaran hadis-hadis terkait jilbab.

Kritikan lengkap Armando tersebut dapat dilihat di kanal youtube Cokro TV pada video berjudul ‘Dalam Islam, Rambut Sumber Petaka?’ yang ditayangkan pada 27 Januari 2021.

Salah satu pernyataan Ade Armando dalam video tersebut terkait hukuman menampakkan rambut bagi perempuan.

“Menurut saya, hadis soal hukuman 70.000 tahun bagi perempuan yang menampakkan sehelai rambut itu adalah hasil karang-karangan orang yang mungkin saja sebal karena rambutnya tidak seindah rambut perempuan lainnya,” ujarnya.

Menurut Ade Armando, hadis-hadis dengan ajaran tidak masuk akal seperti itu dapat ditemui dengan muda dari berbagai sumber.

“Masalahnya, walau sudah ada proses penseleksian hadis, hadis-hadis semacam itu tetap bertebaran di muka bumi,” ucapnya.

“Ajaran-ajaran tidak masuk akal semacam ini dengan mudah ditemukan di banyak buku, internet, media sosial, atau apa yang disampaikan para pendakwah berpikiran dangkal,” lanjutnya.

Ade Armando juga mengatakan bahwa hadis-hadis ini celakanya kemudian dianggap wajib untuk diterapkan.

“Celakanya, karena dianggap datang dari Nabi Muhammad, hadis-hadis tidak masuk di akal itu dijadikan rujukan hukum yang dianggap wajib diterapkan dalam hidup ini,”