Viral Percakapan Oknum Guru Doakan Muridnya Mati: Mudah-mudahan Mampus

Terkini.id, Jakarta – Viral di media sosial, oknum guru di Nusa Tenggara Barat (NTB) mendoakan agar muridnya meninggal dunia. 

Peristiwa itu bermula saat saat seorang siswa yang melakukan konvoi kelulusan mengalami kecelakaan tunggal. Lalu, oknum guru tersebut mendoakan supaya mampus atau mati.

Pernyataan itu terungkap dalam percakapan WhatsApp yang kemudian dicapture lalu dibagikan di media sosial. 

Oknum guru honorer di SMAN 1 Wera, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima itu mendoakan muridnya meninggal dunia.

Bermula saat kecelakaan lalulintas seorang siswa yang tengah konvoi kelulusan. Siswa tersebut kemudian dirujuk ke RSUD Dompu untuk menjalani perawatan akibat luka yang diderita.

Beberapa lama berselang, muncul unggahan percakapan WhatsApp yang berisi komentar Agus yang diduga guru siswa tersebut mendoakan agar siswa tersebut meninggal.

"Ktx ada yg kecelakaan tunggal di rujuk ke rumah sakit bima. Mudahan mampus," kata Agus dalam percakapan WhatsApp.

Berselang beberapa lama, murid yang kecelakaan tersebut meninggal dunia dalam perawatan tim medis.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Aidy Furqan akan menelusuri oknum guru honorer di Kabupaten Bima tersebut.

Aidy akan meminta Kantor Cabang Dinas (KCD) Dikbud Bima untuk menelusuri oknum guru tersebut. Apabila informasi yang beredar benar, maka oknum guru akan diberikan pembinaan tegas.

"Nanti saya minta KCD Bima untuk mericek informasi ini dan apa yang menjadi pemicu sikap guru tersebut. Jika itu benar dilakukan oknum guru maka kami akan lakukan pembinaan serius," katanya di Mataram, Rabu, 7 April 2021 dikutip dari VIVAnews.

Aidy Furqan mengatakan, sikap mendoakan murid meninggal dunia tidak dapat dibenarkan. Apalagi dilakukan seorang tenaga pendidik.

"Terkait sikap guru yang mendoakan anak muridnya celaka, tentu tidak patut dilakukan seorang pendidik," ujarnya.

Kendati demikian, Aidy juga tidak membenarkan konvoi kelulusan yang dilakukan siswa.

"Saya sayangkan kejadian tersebut yang bermula dari aksi konvoi kelulusan. Seharusnya hal ini tidak terjadi dan tidak dilakukan anak-anak sekolah karena apa yang mau dirayakan dengan konvoi tersebut, mengingat kelulusan juga belum diumumkan," katanya.

"Jadwal kelulusan nanti awal Mei 2021 sehingga saat ini anak-anak kelas akhir masih ada yang mengikuti proses ujian akhir kelulusan. Semoga kejadian ini tidak terulang di sekolah lainnya," ujarnya.

Seorang warga, Agus Mawardy mengirim surat terbuka untuk Gubernur NTB Zulkieflimansyah. Dia meminta oknum guru tersebut diberikan sanksi tegas.

"Pak Gubernur NTB mohon dibina bila perlu dipecat oknum Guru Honorer di SMAN 1 Wera yang bernama sama dengan kami ini. Apa yang didoakannya ini sudah tak benar dan akhirnya menjadi kenyataan," tulisnya, Selasa, 6 Maret 2021.

"Murid yang kecelakaan akibat konvoi kelulusan dan didoakan meninggal oleh oknum Guru ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya saat dirujuk di RSUD Dompu," ujarnya.

Dia mengatakan sikap seperti itu tidak seharusnya dilakukan oleh seorang guru, apapun kesalahan murid.

"Sungguh tindakan yang tak terpuji bagi seorang pendidik yang mendoakan hingga ingin syukuran dengan mengorbankan darah binatang agar muridnya meninggal dunia," katanya.

Dia mengatakan, sikap guru seperti itu tidak dapat ditolerir, "Tak bisa ditolerir cara Guru ini. Hingga akhirnya siswanya sendiri pun meninggal dan duka ini menjadi kebahagiaan bagi seorang pendidik. Mohon dipecat Guru ini Pak Gubernur," ujarnya.