Ngabalin Cibir Pengkritik TWK 'Otak Sungsang', Pengamat Politik: Memperburuk Citra Presiden

Terkini.id, Jakarta - Pernyatan Ali Mochtar Ngabalin menuai kecaman usai mengatakan pengkritik Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) bagi pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berotak sungsang.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidaytullah Jakarta, Adi Prayitno menilai pernyataan Ngabalin selaku Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden bisa memperburuk citra presiden.

"Tim komunikasi istana tak mencerminkan keterbukaan terhadap kritikan. Ini tak baik bagi citra presiden," kata Adi Prayitno, dilansir dari Tempo.co pada Sabtu, 15 Mei 2021.

Adapun salah satu pengkritik tes tersebut adalah Ketua PP Muhammadiyah, Busyro Muqoddas. Ia memperingkatkan bahwa KPK bisa tumbang di bawah pemerintahan Jokowi.

Mendengar hal ini, Ngabalin menyebutkan Busyro Muqoddass memiliki otak sungsang karena menyalahkan Jokowi mengenai nasib Novel Baswedan dan 74 temannya yang tidak lulus tes tersebut.

Kritikan Ngabalin di akun instagram pribadinya/@ngabalin

"Otak-otak sungsang seperti Busyro Muqoddas ini merugikan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan pendidikan ummat yang kuat dan berwibawa kenapa harus tercemar oleh manusia prejudice seperti ini," tulisnya di Intagram pada Kamis, 13 Mei 2021.

Atas pernyataan Ngabalin ini, Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah  (LHKP PW) Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta meminta permintaan maaf Ngabalin secara terbuka dan klarifikasi akan pernyataan tersebut.

Adi selaku pengamat politik menilai pernyataan ini bisa menimbulkan makna sarkatis dan menjadi boomerang.

"Dulu, biasanya dituding kadrun. Sekarang bagi pengkritik KPK dibilang otaknya sungsang, pernyataan yang sangat sarkastis," ungkapnya.

Pengamat komunikasi politik ini menjelaskan seharusnya Ngabalin sebagai perwakilan dari Istana bisa mengunakan bahasa yang bijaksana dan tidak menimbulkan beragam perspektif. 

Adi memberikan contoh mengenai gaya bahasa yang pas yang bisa digunakan adalah Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md yang bisa menjadi jembatan perwakilan Jokowi dibandingkan Ngabalin.

Terlebih lagi, Jokowi terkenal dengan citranya yang merakyat, maka tentulah harus terbuka dan merespons dengan bijak akan beragam kritikan.

"Publik melihat jauh elegan dan substansial. Kalau yang lain, rasa-rasanya masih terlihat seperti timses capres 2019, tapi tidak memposisikan diri sebagai jubir istana yang mesti elegan menghadapi kritik," ujar Adi soal ucapan Ngabalin.