Terkini.id, Jakarta - Di saat pacar melarang banyak hal, melanggar privasi, dan membatasi pertemanan, hal itu disebut toxic relationship.
Di saat teman sering berbicara di belakang kita dan datang hanya pada saat ada perlu, hal itu disebut toxic friendship.
Lalu, apa itu toxic positivity?
Dilansir dari Halodoc, Toxic positivity merupakan kondisi di saat seseorang selalu berpikir positif dan menganggap semua masalah yang terjadi pada dirinya dapat dilewati dengan baik.
Di saat seseorang mendapatkan toxic positivity dari orang-orang di sekitarnya, maka ia akan mulai mengabaikan emosi negatif yang ada di dalam tubuhnya.
Padahal, perasaan emosi tersebut dihasilkan oleh otak untuk menandakan adanya bahaya.
Jika terus dibiarkan, kedepannya kamu akan kesulitan untuk menilai masalah yang terjadi dan menganggap jika masalah tersebut akan terlewati dengan sendirinya tanpa kita pikirkan.
Urban Dictionary menyebutkan bahwa kalimat seperti "Kalau kamu tetap positif, kamu akan mengatasi segala kesulitan yang ada" akan mengabaikan perasaan sesungguhnya dari orang yang sedang bermasalah.
Hal itu seolah-olah perasaan negatif yang dialami dan ingin diungkapkan orang tersebut tidak penting bagi lawan bicaranya.
Jika emosi-emosi tersebut disangkal dan dipendam agar terlihat positif atau bahagia, maka emosi tersebut akan terus menumpuk dan dapat memicu stres, sakit psikis serta fisik.
Beberapa Contoh kata yang mengandung toxic positivity antara lain:
"Jangan menyerah, kamu pasti bisa."
"Coba untuk melihat sisi positifnya, ..."
"Kamu harus bersyukur, coba lihat penderitaan orang lain."
"Kamu harus banyak bersyukur akan hal tersebut, ..." dan sebagainya.















