Terkini.id, Jakarta - Narasi yang disampaikan lembaga survei yang mengingatkan pendukung Ganjar-Mahfud untuk jangan menyerang keluarga Jokowi dinilai strategi untuk menekan pendukung pasangan Capres-Cawapres tersebut.
Seperti diketahui, sejumlah pendukung Ganjar Pranowo-Mahfud MD kerap kali menyampaikan serangan ke keluarga Jokowi, imbas putusan Mahkamah Konstitusi yang meloloskan Gibran Rakabuming, Putra Presiden Jokowi sebagai Calon Wakil Presiden.
Salah satu lembaga Survei, LSI Denny JA, misalnya menyebut elektabilitas Ganjar-Mahfud merosot tajam akibat blunder pendukungnya yang Jokowi belakangan ini. Serangan tersebut dinilai membuat pendukung Jokowi meninggalkan Ganjar.
Influencer, Islah Bahrawi menyebut, narasi yang disampaikan Lembaga Survei itu mirip seperti saat ada agenda Jokowi 3 periode. Pada saat itu, menurut dia, lembaga survei meyakinkan publik tentang 3 periode berdasarkan hasil sensus dan approval rate.
"Jika narasi lembaga survei sudah begini, kabar bahwa Jokowi semakin gelisah dengan fakta di lapangan, mungkin ada benarnya. Ini narasi yg dibangun hampir semua pollster untuk hasil survei yg konon Prabowo bisa menang satu putaran.
Modus begini bukan barang baru. Dulu sewaktu operasi '3 Periode' mulai berjalan, sebagian pollster bahkan juga direkrut untuk meyakinkan publik dengan penguatan narasi "berdasarkan hasil sensus dan approval rate".
Toh, fakta di lapangan berkata lain, ternyata banyak masyarakat tidak setuju dengan rencana norak itu. Padahal di era itu belum ada kasus 'Mahkamah Keluarga' dan belum begitu terkuaknya watak 'mencla mencle'..
Kata judul film: 'I know what you did last summer..' Hehe...," tulis akun Islah Bahrawi di media sosial















