Ramadhan di Kepulauan Tropis

Terkini.id, Sorong – Bukan saja pilihan pada buah kurma. Semata ittiba (ikutan) pada perilaku baginda Rasul. Umat Islam di kepulauan juga memilih minuman dengan campuran es ketika berbuka puasa.

Ekspresi beragama masyarakat muslim di Indonesia setidaknya merupakan interaksi dengan lingkungan.

Maka, dengan berada di kepulauan, hidangan yang tersedia berupa ikan, dan juga makanan laut lainnya.

Bahkan di daerah pesisir, begitu bagun tidur langsung melihat laut. Sementara ketika bersiap untuk tidur, diantar dengan deburan ombak.

Walaupun kondisi yang sama juga terjadi di perairan Saudi dan masyarakat Timur Tengah lainnya, tetapi narasi keislaman Arab lebih tertumpu pada padang pasir.

Ini bisa terlihat, dimana di satu hotel kota Makassar ornamen selama Ramadhan justru dengan hiasan onta dan padang pasir.

Padahal, Islam bisa saja tidak dengan simbol-simbol itu.

Dimana ajaran Islam tidak dikhususkan oleh lingkungan gurun, tanaman kaktus, dan juga panorama menggembala.

Ketika melihat sisi Islam di negara tropis, dan juga kepulauan, maka tentu ini akan memperlihat potret tersendiri.

Pada kesempatan itu berbeda sama sekali dengan onta dan padang pasir yang ada di hotel tadi.

Bolehjadi, hiasan yang akan tercermin di masa-masa idul fithri adalah ketupat. Walau ini bukan tradisi keseluruhan masyarakat Indonesia, paling tidak menjadi jamak kita temukan penanganan ketupat pada hari raya.

Bahkan secara khusus, di Gorontalo ada lebaran ketupat. Merupakan perjumpaan antara masyarakat Jawa dengan masyarakat Gorontalo.

Ramadhan dengan pernak-perniknya memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menyajikan hidangan yang sesuai dengan kondisi dan konteks kita masing-masing.

Tak harus dengan kurma, tetapi berbuka dengan pilihan terbaik yang ada di sekeliling kita, menjadi cara dalam menggembirakan diri dan keluarga selama Ramadhan.