Paramita Foundation Pelopori Sumbangan ke Erbaun yang Belum Terjamah Bantuan Bencana NTT

Terkini.id, Kupang - Jelajah tim relawan Paramita Foundation menuju daerah terpencil di Erbaun, Kelurahan Buraen, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) guna menyalurkan bantuan pasca banjir bandang di NTT, Jumat 16 April 2021, boleh jadi merupakan momen paling mengharukan.

Bagaimana tidak, sepanjang 36 kilometer jalan masuk yang sempit, curam, dan berlongsor sejak bergerak dari Buraen yang menjadi ibu kota Kabupaten Kupang, para relawan dari berbagai lintas komunal yang dipelopori Paramita Foundation dengan bantuan distribusi Indonesian Off-Road Federation (IOF) NTT, memerlukan perjuangan ekstra keras untuk bisa sampai dengan selamat di desa kecil yang porak-poranda dihantam badai siklon tropis seroja pada Minggu 4 April 2021 lalu.

Miris, sepanjang mata memandang tampak pohon-pohon dan tiang listrik yang bertumbangan dengan kabel-kabelnya yang masih melintang di tanah bekas lumpur yang menggumpal. Beberapa menjadi bongkahan, dengan tanah retak yang bergeser dan longsor di sana-sini. Rumah-rumah warga di sana nyaris tidak beratap, beberapa ambruk dengan hanya menyisakan puing-puing kayu dan tembok.

“Sangat memprihatinkan, kami sangat terenyuh melihat kondisi warga dan keadaan pasca banjir bandang yang ada di Desa Erbaun ini,” demikian diungkapkan Indra Effendy, koordinator relawan dari Paramita Foundation dan Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (Mapanbumi) di Erbaun, Jumat 16 April 2021.

Kondisi yang sangat memprihatinkan tersebut, sebut salah seorang umat Buddha di Kota Kupang ini, lantaran daerah yang terdampak parah ini sama sekali belum tersentuh bantuan dari pihak manapun.

“Untuk itulah, kami menyalurkan bantuan peduli bencana NTT dari Paramita Foundation dan Mapanbumi berupa sembako dan kebutuhan lain bagi penyintas di antaranya 20 karung beras, 100 kardus mi instan, 10 kardus minyak goreng, 10 kardus biskuit, 10 kardus susu UHT, 20 kelambu bayi, 20 sarung kain, dan dua set perlatatan masak untuk dapur umum,” imbuh Indra.

Warga Erbaun yang terdampak bencana NTT tengah mengangkut barang bantuan dari Paramita Foundation, Jumat 16 April 2021. (Kupang.Terkini.id/Effendy Wongso)

Beratnya medan dan terisolirnya Erbaun pasca bencana, juga diungkapkan Ketua RT 21 Erbaun, Robert yang ditemui Kupang.Terkini.id di lokasi bencana. Menurutnya, sebanyak 76 KK di Erbaun terisolir dan tidak memiliki akses keluar. Apalagi, hasil perkebunan seperti jagung warga semuanya ludes tersapu banjir dan longsor.

“Untuk bertahan hidup, warga di sini hanya makan jagung rusak setelah dikeringkan kembali. Di mana-mana, terlihat warga menjemur jagung bekas terendam banjir. Inilah yang dimakan, karena tidak ada lagi bahan makanan lain yang tersisa,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Departemen 4 IOF Pusat, Octavian Koko yang menjadi relawan dengan membawahi 10 armada roda empat jelajah medan berat mengaku terketuk untuk membantu mendistribusikan barang-barang bantuan dari Paramita Foundation-Mapanbumi hingga tiba di Erbaun yang luluh-lantak.

“Membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana sudah merupakan kewajiban kami. Ini juga sesuai visi yang diemban IOF, dan memang selama ini IOF senantiasa turun membantu masyarakat di daerah bencana dengan kapasitas yang ada,” ujarnya.

Octavian menambahkan, dalam jelajah bantuan pihaknya di NTT kali ini, pihaknya bekerja sama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah dan komunitas Wahana Muda Indonesia (WMI) yang merupakan non-governmental organization (NGO) yang bergerak di bidang sosial, human interest, dan peduli lingkungan.