Konflik Timur Tengah Picu Harga Plastik Naik Tajam di Indonesia

Konflik Timur Tengah Picu Harga Plastik Naik Tajam di Indonesia

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Jakarta — Harga plastik di Indonesia mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan tersebut dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku utama plastik, yakni nafta, akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak langsung pada industri petrokimia global.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia masih bergantung pada impor plastik dan barang dari plastik.

Pada Februari 2026, nilai impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) tercatat mencapai USD873,2 juta atau setara sekitar Rp14,78 triliun dengan asumsi kurs Rp16.927 per dolar AS.

Impor tersebut paling banyak berasal dari China sebesar USD380,1 juta, disusul Thailand sebesar USD82,7 juta, dan Korea Selatan sebesar USD66,7 juta.

Tingginya ketergantungan impor ini membuat industri plastik nasional sangat sensitif terhadap gangguan pasokan bahan baku global dan fluktuasi harga internasional.

Gangguan pasokan bahan baku terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang merupakan salah satu wilayah penghasil bahan baku petrokimia terbesar di dunia.

Sekitar 70 persen produksi nafta global berasal dari kawasan Timur Tengah, sehingga setiap gangguan pasokan di wilayah tersebut langsung berdampak pada harga bahan baku industri plastik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Akibat gangguan pasokan tersebut, harga nafta melonjak tajam dalam waktu singkat. Per 1 April 2026, harga nafta tercatat mencapai USD917 per ton, naik dari sekitar USD630 per ton pada Februari 2026, atau meningkat hampir 45 persen dalam satu bulan.

Nafta merupakan bahan baku utama dalam industri petrokimia yang digunakan untuk memproduksi berbagai bahan kimia seperti butadiena, etilena, dan propilena.

Bahan-bahan tersebut kemudian diolah menjadi berbagai produk plastik seperti botol plastik, kemasan makanan dan minuman, peralatan rumah tangga, komponen otomotif, hingga produk elektronik.