Terkini.id, Jakarta - Masyarakat memiliki banyak stereotip dan prasangka jelek terkait status masih melajang alias jomblo, apalagi seseorang itu sudah berumur tua. Hubungan percintaan memang gampang-gampang sulit, sehingga tidak sedikit di antaranya lebih memilih masih sendiri, tidak menikah, maupun tidak berpacaran.
Kendati demikian, beberapa orang juga tidak tahan dengan status jomblo yang sering dikaitkan dengan olokan meskipun sekadar guyon, seperti “Loh kok hari gini masih menjomblo, kasihan deh lu!”
Alhasil, banyak orang sering merasa tertekan untuk bertahan dalam suatu hubungan, bahkan ada yang memaksakan untuk menikah meskipun tidak saling mencintai hanya lantaran ingin status berhubungan alias nikah.
Akan tetapi, opsi menjomblo itu sebenarnya lebih baik untuk psikis jika ketimbang berada dalam suatu hubungan namun yang ada hanya terjadi rutinitas pertengkaran antarpasangan.
Tentu pada akhirnya, jika mereka tidak puas dengan pasangannya akan putus atau bercerai. Padahal, putusnya hubungan khususnya dalam perceraian akan terasa lebih menyakitkan ketimbang menjomblo.
Opsi melajang dalam artian berkomitmen dengan diri sendiri sebenarnya memiliki banyak manfaat. Melansir Bright Side, salah satu hubungan terpenting yang pernah dirasakan seseorang tentu dengan dirinya sendiri. Pasalnya, kebebasan tanpa ada tekanan dari pasangan adalah hal yang mahal dan jarang yang bisa didapati jika menjalin suatu hubungan, khususnya pernikahan dalam status suami-istri.
Sering merasa bersalah karena melajang? Ya, benar. Penelitian menunjukkan, orang menilai pria dan wanita lajang lebih negatif. Ini memang sudah umum diketahui, bahkan ada kata yang untuk merujuk status lajang, yaitu “singlisme”.
Orang yang masih lajang menghadapi berbagai jenis diskriminasi, dan itu kerap dianggap sah dan tidak bermasalah. Jadi, saat seseorang bertanya, “Kapan Anda menikan?” atau “Berapa anaknya?”, ini akan semakin menekan psikis seseorang dengan status jomblo.
Di negara-negara maju seperti di Amerika dan Eropa, pertanyaan-pertanyaan itu sangat melanggar privasi. Hal itu juga tidak dianggap beretika, berbeda seperti kebanyakan yang terjadi di negara-negara Asia seperti Indonesia sendiri.
Untuk itu, Bright Side mengimbau para lajang lebih baik belajar bersikap baik pada diri sendiri terlebih dulu. Istilahnya, berdamai dengan diri sendiri.
Pasalnya, tidak peduli seberapa keras seseorang berusaha, jika tidak mencintai diri sendiri maka mereka tidak dapat membangun hubungan yang sehat dengan pasangannya kelak.
Tidak mengherankan jika para ilmuwan memperingatkan agar pasangan yang menyayangi diri sendiri, nantinya bakal lebih puas dengan hubungan dengan pasangan mereka. Sikap belas kasihan atau empatik berarti juga menggambarkan sesorang baik hati dan peduli terhadap diri sendiri.
Sebaliknya, orang yang sering berkonflik dengan dirinya sendiri, seperti cenderung mengontrol, mendominasi, dan menghakimi, kelak juga akan berlaku sama terhadap pasangannya.
Selain itu, dengan sikap memahami diri sendiri terlebih dulu, seseorang bisa lebih berkembang baik dalam menjalin hubungan.
Jadi, inilah alasan mengapa status jomblo itu kadang-kadang lebih baik ketimbang memaksakan diri berhubungan, baik menikah atau berpacaran.
Menurut Bright Side, seseorang juga ditekankan untuk memikirkan tentang semua waktu yang dimiliki orang lajang untuk diri mereka sendiri. Mereka dapat masih bebas mengejar karier tanpa teralang batasan-batasan yang menekan diri.
Seseorang yang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun berarti cenderung memiliki ikatan yang lebih kuat dengan keluarga dan teman. Pasalnya, orang lajang lebih cenderung bersosialisasi dan menawarkan serta menerima bantuan dari keluarga dan orang lain.
Selain itu, obsesi mengejar cinta yang tidak kesampaian bisa membuat hidup sengsara. Dorongan terus-menerus ini yang egoistik itu membuat seseorang mudah frustasi, menyalahkan keadaan seperti ketidakrupawanan, atau hal terkait fisik yang kurang ideal yang tidak dimilikinya dibandingkan objek yang dikejarnya.
Cinta dalam artian egoistik terhadap objek yang ingin dimilikinya, juga berandil bagi kesengsaraan seseorang. Sehingga, ada istilah “cinta membuat ketagihan”, dan seseorang mungkin akhirnya melompat dari “hati ke hati” dalam pencarian jodoh yang putus asa.
Menurut Bright Side, bonus tambahan untuk menjadi lajang adalah kenyataan seseorang cenderung lebih sehat secara psikis maupun fisik. Misalnya, para lajang lebih cenderung memiliki indeks berat badan yang lebih sehat, yang mengarah pada risiko penyakit kardiovaskular yang lebih rendah dan lebih sedikit terhadap kerentanan penyakit kronis.
Intinya, menjomblo itu tidak selamanya bikin ngenes. Karena memang jika belum siap untuk berpasangan, tentu tidak bisa dipaksakan yang jika dipaksakan akan menambah penderitaan diri sendiri. Jadi jomblo, siapa takut?















