Makassar Tuan Rumah IGS 2026, Kemenlu Puji Makassar sebagai Gerbang Ekonomi Indonesia Timur

Makassar Tuan Rumah IGS 2026, Kemenlu Puji Makassar sebagai Gerbang Ekonomi Indonesia Timur

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Seiring perkembangannya, program ini tidak hanya menjadi sarana promosi makanan khas daerah, tetapi juga wadah mempertemukan pemerintah daerah, pelaku usaha, komunitas budaya, dan mitra internasional dalam membangun jejaring kerja sama.

Menurutnya, Makassar dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai memiliki kombinasi kuat antara pertumbuhan ekonomi, keberagaman budaya, warisan maritim, serta kekayaan kuliner yang menjadi identitas daerah.

"Tahun ini kami memilih Makassar karena merupakan salah satu kota yang tumbuh pesat di kawasan Indonesia Timur dengan kombinasi kuat antara dinamika ekonomi, keberagaman budaya, warisan maritim, dan keunggulan kuliner," katanya.

Ia menambahkan, Makassar memiliki posisi strategis sebagai gerbang kawasan timur Indonesia yang mampu menawarkan berbagai peluang investasi sekaligus pengalaman budaya yang autentik bagi para delegasi internasional.

Heru juga menilai sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan kegiatan ini menjadi contoh nyata bagaimana diplomasi dapat dibangun melalui kolaborasi lintas sektor.

"Kerja sama yang kuat antara Kementerian Luar Negeri dan Pemerintah Kota Makassar menunjukkan bagaimana aktor nasional dan lokal dapat berjalan bersama dalam memperkuat keterlibatan Indonesia di tingkat internasional," ujarnya.

Selama berada di Makassar, para delegasi dijadwalkan mengikuti berbagai agenda yang menampilkan potensi ekonomi, investasi, budaya, dan pariwisata Kota Makassar maupun Sulawesi Selatan.

Mereka juga diperkenalkan dengan beragam kuliner khas daerah seperti Coto Makassar, Konro, Palubasa, serta berbagai olahan hasil laut yang menjadi kekayaan tradisi masyarakat pesisir.

Menurut Heru, setiap hidangan yang diperkenalkan dalam kegiatan gastrodiplomasi tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga membawa cerita mengenai sejarah, budaya, dan identitas masyarakat yang melahirkannya.

"Setiap hidangan memiliki kisah, setiap rasa membawa warisan budaya, dan setiap meja makan yang kita bagi bersama menciptakan ruang untuk memperkuat saling pengertian antarbangsa," tuturnya.