Wilianto Tanta: PSMTI Harus Jadi Jembatan Persatuan dan Pengabdian bagi Papua

Wilianto Tanta: PSMTI Harus Jadi Jembatan Persatuan dan Pengabdian bagi Papua

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Papua – Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Provinsi Papua resmi memiliki kepengurusan baru untuk masa bakti 2026–2030.

Pelantikan yang digelar di Kota Jayapura, Selasa (5/8/2026), menjadi momentum memperkuat peran organisasi dalam membangun persaudaraan lintas etnis, memperluas jangkauan organisasi, melestarikan sejarah masyarakat Tionghoa, serta berkontribusi bagi pembangunan Papua dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Prosesi pelantikan berlangsung khidmat dan dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, kalangan pengusaha, serta ratusan anggota PSMTI dari berbagai daerah di Papua.

Ketua Umum PSMTI Pusat, Wilianto Tanta, menegaskan bahwa PSMTI merupakan organisasi sosial yang menjadikan persatuan, toleransi, dan pengabdian sebagai nilai utama dalam setiap langkah organisasi.

"PSMTI bukan sekadar wadah berhimpun masyarakat Tionghoa, tetapi organisasi sosial yang menjunjung tinggi persatuan, toleransi, dan pengabdian kepada bangsa. Kami berharap kepengurusan baru mampu menjadi jembatan yang mempererat hubungan masyarakat Tionghoa dengan seluruh elemen masyarakat di Papua," ujar Wilianto.

Ia menambahkan, PSMTI di seluruh Indonesia diharapkan terus menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat kerukunan sosial, sekaligus menghadirkan berbagai program yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Paulus Arfayan Usung Tiga Agenda Prioritas

Ketua PSMTI Papua periode 2026–2030, Paulus Arfayan, menyatakan kepercayaan yang diberikan kepadanya merupakan amanah besar yang akan dijalankan dengan semangat melayani, mengabdi, dan bertumbuh bersama seluruh masyarakat Papua.

"Visi kami adalah PSMTI Papua Bersatu, Melayani, Mengabdi, dan Bertumbuh Bersama. Organisasi ini harus hadir memberikan manfaat nyata bagi seluruh warga tanpa membedakan suku, agama, ras maupun golongan. Papua adalah rumah bersama yang harus dibangun dengan semangat persaudaraan," tegas Paulus.

Wilianto Tanta: PSMTI Harus Jadi Jembatan Persatuan dan Pengabdian bagi Papua
PSMTI Papua periode 2026–2030 resmi dilantik di Jayapura

Ia mengungkapkan, kepengurusan PSMTI Papua memiliki tiga agenda prioritas selama empat tahun ke depan.

Prioritas pertama adalah memperkuat organisasi dengan membentuk kepengurusan PSMTI di seluruh kabupaten di Papua.

Saat ini, kepengurusan baru terbentuk di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Biak Numfor.

"PSMTI harus hadir hingga ke pelosok Papua. Kami mengajak seluruh tokoh masyarakat Tionghoa di berbagai daerah untuk bersama-sama membangun organisasi ini sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat luas," katanya.

Kampung Cina Abepura Diusulkan Jadi Kawasan Cagar Budaya

Agenda kedua yang menjadi perhatian PSMTI Papua adalah pelestarian sejarah dan budaya masyarakat Tionghoa di Tanah Papua.

Paulus mengungkapkan gagasan menjadikan kawasan Kampung Cina di Abepura sebagai kawasan cagar budaya atau Chinatown, yang merekam perjalanan panjang keberadaan masyarakat Tionghoa di Papua sejak masa kolonial Belanda.

Menurutnya, sejarah masyarakat Tionghoa di Papua merupakan bagian dari perjalanan daerah yang patut dijaga sekaligus dikenalkan kepada generasi mendatang.

"Jangan ada sekat. Kita harus terus bergandengan tangan dengan masyarakat Papua, menjaga toleransi, memperkuat persaudaraan, dan membangun daerah ini bersama-sama," ujarnya.

Dokumentasikan Jejak Pejuang Tionghoa Papua

Selain pelestarian kawasan bersejarah, PSMTI Papua juga akan mendorong pendokumentasian sejarah para pejuang dan veteran keturunan Tionghoa yang ikut mempertahankan Indonesia, namun belum banyak tercatat dalam sejarah nasional.

Paulus berharap PSMTI Pusat dapat menginventarisasi tokoh-tokoh tersebut agar kontribusinya menjadi bagian dari memori kolektif bangsa.

"Generasi muda harus mengetahui bahwa masyarakat Tionghoa di Papua bukan hanya dikenal sebagai pelaku usaha, tetapi juga memiliki semangat nasionalisme yang kuat dan ikut berjuang mempertahankan NKRI," ungkapnya.

Ia juga mengajak generasi muda keturunan Tionghoa untuk tetap mempelajari budaya leluhur sekaligus memperkuat wawasan kebangsaan melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, serta kecintaan terhadap Indonesia.

Menutup sambutannya, Paulus mengutip pepatah Tionghoa, "Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendiri. Jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama."

Menurutnya, filosofi tersebut menjadi landasan PSMTI Papua dalam membangun kolaborasi dengan seluruh komponen masyarakat demi mewujudkan Papua yang damai, inklusif, dan sejahtera.

Perwanti Papua Masa Bakti 2026–2030 Juga Dilantik

Dalam rangkaian kegiatan yang sama, turut dilantik kepengurusan Persaudaraan Wanita Tionghoa Indonesia (Perwanti) Papua masa bakti 2026–2030 oleh Ketua Umum Perwanti Pusat, Helga Abraham.

Pelantikan PSMTI dan Perwanti Papua menjadi simbol kuat semangat persatuan dalam keberagaman. Kehadiran berbagai unsur masyarakat dan pemerintah pada acara tersebut mencerminkan komitmen bersama untuk menjaga harmoni, mempererat persaudaraan lintas etnis, serta mendorong pembangunan Papua yang inklusif, damai, dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.