Terkini - Kebakaran hutan dan lahan bukan hanya meninggalkan persoalan lingkungan dan kerugian materi. Dampak kesehatan akibat paparan asap juga dapat berlangsung jauh lebih lama setelah api padam dan udara kembali terlihat bersih.
Hal itu disampaikan Dokter Dion Haryadi melalui media sosialnya, merespons persoalan kebakaran hutan di Kalimantan, termasuk munculnya dugaan bahwa pembakaran dilakukan secara sengaja untuk mempercepat proses alih fungsi lahan.
Dion mengingatkan, keuntungan ekonomi yang mungkin diperoleh dari pembakaran hutan tidak sebanding dengan kerugian yang harus ditanggung masyarakat.
"Saya nggak tahu ya seberapa besar keuntungan yang bisa didapat, tapi yang pasti kerugiannya itu lebih banyak lagi," ujarnya.
Menurutnya, kerugian tersebut bukan hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga menyangkut kesehatan manusia dan keberlangsungan lingkungan.
Ia menegaskan, dampak kesehatan dari asap kebakaran hutan tidak otomatis berakhir ketika asap menghilang.
"Kerugian secara kesehatan ini nggak cuma untuk sekarang, nggak berhenti setelah asapnya hilang. Efeknya itu masih ada sampai seterusnya, apalagi kalau diulang terus setiap tahun," katanya.
Dion menjelaskan, paparan asap kebakaran hutan dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap menurunnya fungsi paru-paru. Saluran pernapasan juga dapat menjadi lebih rentan mengalami infeksi.
Masalahnya tidak berhenti pada sistem pernapasan. Partikel sangat kecil yang terdapat dalam asap dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat mencapai aliran darah.
Partikel tersebut, kata Dion, berpotensi memicu peradangan pada pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap terbentuknya plak dan penyumbatan pada pembuluh darah yang menuju jantung.
"Mulai ada bukti-bukti juga bahwa partikel-partikel ini bisa menembus sawar otak dan menyebabkan gangguan di otak," ujarnya.
Dampak tersebut menjadi semakin mengkhawatirkan karena tidak semua kelompok masyarakat memiliki tingkat kerentanan yang sama.
Dion menekankan bahwa efek paparan asap kebakaran hutan dapat lebih berat terhadap anak-anak, ibu hamil, dan kelompok lanjut usia.
Karena itu, ia mengingatkan pihak-pihak yang melakukan pembakaran hutan agar tidak hanya menghitung keuntungan yang diperoleh dalam waktu singkat.
"Jadi sekali lagi, buat yang merasa aja, saya nggak tahu seberapa besar keuntungan yang kalian bisa dapat, tapi kalian harus tahu kalau ada harga yang harus dibayar buat ini," katanya.
Menurut Dion, harga tersebut mungkin tidak langsung terlihat saat kebakaran terjadi. Namun, dampaknya dapat muncul kemudian dan ditanggung oleh masyarakat dalam jangka panjang.
"Mungkin nggak sekarang, tapi ada yang harus kalian bayar. Semoga tersinggung," pungkasnya.















