Konsep tersebut terinspirasi dari art street dan piazza di Eropa serta Italia. Berbagai kegiatan seperti live painting, pameran seni, musik, pertunjukan, workshop, outdoor dining, hingga aktivitas komunitas direncanakan menjadi bagian dari kawasan tersebut.
Konsep ini ditujukan untuk membangun kawasan kreatif yang inklusif, sehingga seniman, musisi, penampil, pengunjung, dan masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berpartisipasi.
Saat ini, One Muse bersama Pemerintah Kota Sydney tengah mendiskusikan peluang pemanfaatan jalan dan ruang publik sebagai ruang seni dengan tetap mengikuti regulasi yang berlaku.
“Jalan memiliki arti penting karena seni tidak seharusnya tersembunyi di dalam satu ruangan,” ujar Iwan.
Menurut dia, kreativitas dan kesempatan seharusnya dapat menjadi bagian dari kehidupan publik sehari-hari.
“Kami ingin kreativitas dan kesempatan menjadi bagian dari kehidupan publik sehari-hari. One Muse Art Street akan memungkinkan visi Sunito Foundation melampaui dinding galeri dan menjadi sesuatu yang dapat dilihat, dirasakan, dan didukung oleh seluruh komunitas,” katanya.
Dalam jangka panjang, One Muse dan One Muse Art Street diharapkan menjadi salah satu representasi utama Sunito Foundation dengan mempertemukan seniman, keluarga, sekolah, dunia usaha, warga, pengunjung, serta organisasi kreatif.
Membuka Peluang dari Seni
Melalui One Muse, Sunito Foundation tidak hanya ingin memamerkan karya seni. Platform ini juga diarahkan untuk membuka berbagai peluang, mulai dari pameran, penjualan karya, workshop, kolaborasi kreatif, akses pekerjaan, hingga penyewaan karya seni untuk perkantoran, hotel, proyek properti, dan berbagai acara.
Tujuan akhirnya adalah membantu individu dengan kebutuhan belajar khusus membangun kepercayaan diri, kemampuan, identitas profesional, penghasilan, serta rasa memiliki terhadap komunitas.















