Di Tengah Sulitnya BBM, Pemerintah Tidak Akan Naikkan Harga Pertalite Sampai Akhir Tahun

Di Tengah Sulitnya BBM, Pemerintah Tidak Akan Naikkan Harga Pertalite Sampai Akhir Tahun

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Jakarta - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, termasuk Pertalite, tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026. Kepastian ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah lonjakan harga minyak dunia yang telah menembus USD100 per barel.

Bahlil mengatakan pemerintah tetap berkomitmen menjaga harga BBM subsidi demi melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.

“Saya selalu berkoordinasi terus dengan Menteri Keuangan atas arahan Bapak Presiden Prabowo. Selalu melakukan dan mengikuti secara seksama terhadap berbagai dinamika perkembangan global. Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu. Tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan,” kata Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat 11 September 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan saat harga minyak dunia mengalami lonjakan lebih dari 6 persen. Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup naik USD6,42 atau 6,34 persen menjadi USD107,63 per barel. Sementara minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik USD6,43 atau 6,69 persen menjadi USD102,48 per barel.

Meski harga minyak global meningkat, Bahlil menyebut pemerintah masih memiliki ruang untuk mempertahankan harga BBM subsidi hingga akhir tahun.

Menurutnya, rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sejak Januari hingga September 2026 masih berada di kisaran USD85-90 per barel.

“Sekalipun sekarang sudah menjadi USD106 sampai 108 per barrel, tapi rata-rata ICP dari Januari sampai dengan bulan September sekarang itu kurang lebih di angka sekitar USD85 sampai USD90. Jadi masih overall masih oke,” ujarnya.

Bahlil menegaskan, pemerintah bahkan siap menambah anggaran subsidi apabila diperlukan untuk menjaga harga BBM bagi masyarakat.

“Presiden Prabowo berpandangan bahwa membela dan menjaga daya beli masyarakat untuk menengah ke bawah itu jauh lebih penting sekalipun dengan berbagai macam hal-hal yang harus kita lakukan menambah anggaran subsidi,” katanya.

ICP Bulan Agustus Naik

Di sisi lain, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman menyebut ICP Agustus 2026 naik menjadi USD89,43 per barel. Angka tersebut meningkat USD7,75 per barel dibandingkan ICP Juli yang berada di level USD81,68 per barel.

Kenaikan tersebut dipengaruhi meningkatnya harga minyak mentah dunia akibat dinamika geopolitik dan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di jalur-jalur strategis, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah.

Untuk September, ICP diproyeksikan masih berada di level tinggi, yakni sekitar USD83-87 per barel.

Meski demikian, pemerintah memastikan perkembangan harga minyak dunia akan terus dipantau. Kebijakan mempertahankan harga BBM subsidi dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus ketahanan energi nasional.

Kepastian tidak adanya kenaikan harga ini menjadi penting di tengah persoalan ketersediaan BBM di sejumlah daerah yang dalam beberapa hari terakhir ditandai antrean panjang di SPBU. Pemerintah kini juga mendorong langkah distribusi dan pelayanan tambahan untuk memastikan pasokan BBM tetap tersedia bagi masyarakat.