Terkini.id, Jakarta - Kendati Amerika negara liberal, tapi majalah Dewasa Playboy tak bisa dibeli sembarangan. Siapa yang tidak tahu negara yang dijuluki Negeri Paman Sam ini? Dengan melihat Patung Liberty, siapapun tahu kalau negara itu pasti Amerika Serikat. Salah satu negara yang memiliki penduduk terbanyak di dunia ini dikenal memiliki fundamental liberal.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, liberal berarti bersifat bebas atau berpandangan bebas (luas dan terbuka). Akan tetapi, kendati liberal, Amerika Serikat tidak hantam kromo atau serampangan terkait kebebasan. Ada aturan dan hukum yang sangat ketat yang patut dipatuhi warganya.
Dalam banyak sektor, seperti industri hiburan khusus dalam perfilman bertema dewasa vulgar misalnya film porno, Amerika Serikat sangat jelas memberi garis merah terhadap siapa saja yang dapat mengonsumsinya alias menontonnya.
Begitu pula dengan majalah dewasa seperti Playboy. Dulu, sebelum edisi onprint atau edisi cetaknya ditutup lantaran kerugian di masa pandemi Covid-19, majalah Playboy masuk dalam kategori PG-13 sehingga tidak bisa dibeli sembarangan kalangan.
Seperti diketahui, merebaknya pandemi Covid-19 telah menggerus berbagai sektor, baik formal dan nonformal. Pengangguran akibat masifnya pemangkasan tenaga kerja, membuat perekonomian dunia nyaris jatuh ke jurang resesi.
Tidak terkecuali dalam media cetak, seperti yang dialami majalah hiburan populer dunia, Playboy. Majalah gaya hidup yang ditujukan bagi pembaca pria dewasa tersebut, seperti dilansir The Guardian, Kamis 19 Maret 2020 lalu, seperti diulas Terkini.id beberapa waktu lalu, mengatakan akan mempercepat keputusan untuk pindah ke penerbitan digital pertama mereka.
Sebelumnya, manajemen majalah Playboy telah mengumumkan akan menutup oplah cetak yang sebelumnya terbit berkala di Amerika Serikat. Sehingga, edisi terakhir mereka pada pengujung Maret 2020 bertajuk “Musim Semi” yang terbit di lapak dan kios majalah merupakan tiras cetakan terakhir di 2020.
Dalam sebuah pengumuman yang dipublikasikan melalui surat terbuka, CEO Playboy Enterprises, Ben Kohn mengatakan keputusan untuk berhenti mencetak majalah Playboy yang sebelumnya terbit triwulanan sejak 2019, telah dibahas pihaknya secara internal beberapa waktu lalu.
Namun, krisis yang diakibatkan wabah virus corona mempercepat keputusan manajemen untuk menutup percetakan dan beralih ke media daring atau online.
“Ketika gangguan pandemi virus corona terhadap produksi konten dan rantai pasokan (distribusi) menjadi semakin jelas, kami terpaksa mempercepat realisasi hasil diskusi yang kami lakukan secara internal,” imbuh Kohn.
Selain dihantam dampak Covid-19, ia mengatakan langkah penutupan versi cetak majalah Playboy juga mengikuti arus moda pembaca yang saat ini sudah beralih ke bacaan digital.
“Pertanyaan yang selalu kami diskusikan terkait bagaimana mengubah produk cetak kami agar lebih sesuai dengan diinginkan konsumen. Saat ini, konsumen juga ingin membaca setiap hari, bukan setiap triwulanan seperti yang selama ini ditempuh manajemen untuk majalah Playboy,” jelas Kohn.
Ia menjelaskan, dengan penutupan versi cetak Playboy, pihaknya akan pindah ke jadwal penerbitan digital pertama untuk semua konten, termasuk subcetak terkait Playboy lainnya seperti Playboy Interview, 20Q, Playboy Advisor, dan Pictorials Playmate.
“Tidak mengherankan, kebiasaan konsumsi media telah berubah selama beberapa waktu. Kami sadari, konten Playbok dalam bentuk cetakan hanya sampai di tangan sebagian kecil penggemar kami,” beber Kohn.
Ia mengatakan, seiring maraknya penerbitan versi online dan menghadapi kompetisi industri media yang kian ketat di 2021, manajemen memutuskan untuk “mencetak” majalah dalam berbagai platform digital.
Sekadar diketahui, majalah Playboy didirikan Hugh Hefner pada 1953. Sejak saat itu, menjadi merek global dunia yang meliputi sub konten seperti acara TV, produk komersial, resor, klub, label rekaman, dan lainnya.
Majalah yang senantiasa menampilkan model seminude atau setengah telanjang dalam bingkai foto indah tersebut, telah menerbitkan buku-buku populer dari banyak karya penulis masyhur termasuk Joyce Carol Oates, James Baldwin, Margaret Atwood, dan Saul Bellow.
Sirkulasi dan distribusi majalah Playboy sendiri menghadapi tentangan kontroversial di beberapa negara yang menganut paham nonsekuler. Liputan-liputan terkait kemolekan tubuh model yang khusus diisi wanita dianggap mengeksploitasi salah satu gender, meskipun dalam setengah dekade ini format majalah Playboy sudah tidak terlalu vulgar mengumbar ketelanjangan seperti format konten mainstream mereka sebelumnya.
Di Amerika Serikat sendiri, majalah Playboy masuk dalam kategori PG-13 sehingga tidak bisa dibeli sembarangan kalangan. Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri lantaran setiap produksi cetak mengalami penurunan tiras yang tajam.
Untuk mensiasati hal itu, pada 2016 manajemen majalah Playboy bereksperimen menerbitkan konten-konten yang lebih “santun”, dengan tidak lagi menerbitkan foto-foto telanjang frontal penuh wanita.















