Terkini.id, Jakarta - Hei, menurut ilmuwan ada yang aneh di Laut Maluku loh? Kondisi alam di semesta raya memang belum ada yang dapat mengetahuinya secara pasti. Kendati perangkat teknologi saat ini sudah canggih dan mutakhir, namun belum ada yang berhasil menjamah kemisteriusan tanpa batas tersebut. Ini termasuk, bumi yang kita tinggali sekarang.
Belum lama ini, para ilmuwan menemukan inti bumi tumbuh miring akan tetapi mereka belum mengetahui alasannya. Inti padat besi yang ada di tengah-tengah planet kita diklaim telah berkembang lebih cepat di bawah Laut Banda, Maluku.
Menurut mereka, pada inti luar bumi atau mantel di bawah negara Asia Selatan mengeluarkan panas pada tingkat yang lebih cepat dibandingkan pada sisi yang berlawanan, di bawah Brasil. Semakin cepat pendinginan, semakin cepat juga kristalisasi besi terjadi.
Perbedaan seperti itu memiliki implikasi signifikan bagi medan magnet bumi, dan arus konveksi di inti bumi yang menghasilkan medan inilah yang melindungi kita dari partikel matahari yang berbahaya.
Sementara itu, inti bumi merupakan material besi padat yang dikelilingi inti luar bumi yang cair dan mantel bumi yang terbuat dari batuan panas. Di mantel dan inti luar, panas dari besi yang mengkristal dan batuan yang lebih panas di mantel bergerak ke atas menuju permukaan, mendorong material yang lebih dingin ke bawah. Gerakan inilah yang menghasilkan medan magnet.
“Kami memberikan batasan yang agak longgar pada usia inti bumi dalam, antara setengah miliar hingga 1,5 miliar tahun yang dapat membantu memberi jawaban tentang bagaimana medan magnet dihasilkan sebelum keberadaan inti dalam yang solid," beber peneliti dan seismolog dari University of California, Berkeley, Barbara Romanowicz.
Ia menabahkan, medan magnet sudah ada sejak tiga miliar tahun yang lalu sehingga proses lain pasti telah mendorong konveksi di inti luar pada waktu itu.
Menurut The Independent, seperti dikutip dari Viva.com pada Sabtu 19 Juni 2021, usia inti dalam yang relatif muda menunjukkan, dalam sejarah planet kita panas yang menahan cairan besi berasal dari unsur-unsur ringan yang terpisah dari besi, bukan dari kristalisasi besi.
Kemungkinannya adalah lempeng tektonik dengan lempeng dingin, mendinginkan mantel bumi ketika tenggelam ke zona subduksi. Kendati demikian, tidak diketahui secara pasti apakah pendinginan mantel dapat berdampak pada inti bagian dalam planet.
Akan teapi, pertumbuhan inti yang tidak simetris memang menjawab misteri yang telah dicari para ilmuwan untuk dipecahkan selama 30 tahun. Gelombang seismik bergerak lebih cepat ke arah utara-selatan ketimbang di sepanjang khatulistiwa lantaran asimetris kristal besi. Penjelasan inilah yang kemungkinan menjadi jawabannya.















