Berdasarkan pengakuan sang anak, kata Putri, putranya itu awalnya bermain-main sambil berlari-lari di dalam kelasnya saat masuk jam Salat Ashar.
Gegara hal itu, tiba-tiba anaknya tersebut dipukul sebanyak 3 kali oleh oknum guru di sekolahnya itu dengan memakai gagang serokan sampah yang terbuat dari besi.
Akibat penganiayaan tersebut, sang anak menderita luka memar di sekujur punggungnya dan mengalami sakit demam hingga trauma.
"Dari pengakuan anak saya, kala itu memang dia berlari2 di jam sholat ashar sehingga tiba2 dia dipukul sebanyak 3x menggunakan gagang serokan sampah yang terbuat dari plat besi hingga mengakibat luka memar disekujur punggungnya, demam dimalam hari dan traumatis," bebernya.
Ia pun mengatakan, bahwa anaknya yang masih berusia 8 tahun dan duduk di bangku kelas 3 SD tersebut tidak semestinya diperlakukan seperti itu oleh pihak guru di sekolah tersebut.
"Anak saya baru berusia 8 tahun kelas 3 SD, tidak semestinya diperlakukan seburuk ini," tuturnya.
Gegara perbuatan oknum guru di Gowa itu, sang murid tak bisa tidur nyenyak di malam hari karena terus merasa kesakitan di punggungnya.
"Sepanjang malam dia meringis kesakitan dan harus tidur tengkurap akibat dari penganiayaan ini. Hati ibu mana yg tidak hancur, mengetik ini pun, tangan saya kembali gemetar, dada sesak dan air mata pun terjatuh lagi dan lagi," ujar Putri.
Terpisah, Kasi Humas Polres Gowa Iptu Kusman Jaya saat dihubungi Terkini.id, mengatakan bahwa laporan dari pihak orang tua murid yang menjadi korban dugaan aksi penganiayaan oknum guru itu sementara ditangani oleh Unit PPA Sat Reskrim Polres Gowa.
"Silahkan ke kantor pak. Sudah banyak rekan rekan media yang menanyakan masalah ini. Saya mediasi langsung ke unit PPA Reskrim," ujarnya.















