Terkini.id, Mumbai - Pada Mei 2021 lalu, seorang pria setengah baya yang mengidap Covid-19 dibawa ke unit perawatan intensif (ICU) suatu rumah sakit di Kota Kolkata, India bagian timur. Ketika itu, kondisinya memburuk sehingga pasien harus dipasangkan ventilator dan diberi steroid, yang dianggap sebagai obat manjur bagi pasien Covid-19 yang sakit parah dan kondisinya sudah kritis.
Kendati demikian, para pakar mengatakan obat itu juga mengurangi imunitas sekaligus menaikkan gula darah pasien yang bersangkutan. Setelah lama dirawat di unit gawat darurat (UGD), pasien itu kemudian pulih dan bersiap untuk pulang. Akan tetapi, tanpa disangka para dokter menemukan pasien tersebut sudah terinfeksi jamur mematikan yang kebal terhadap obat.
Sekadar diketahui, jamur Candida auris (C. auris), yang ditemukan sekitar satu dekade lalu, merupakan salah satu mikroba di rumah sakit yang paling ditakuti di dunia. Jamur ini kerap menyebabkan infeksi saluran darah dan paling sering terdeteksi di unit perawatan intensif di banyak rumah sakit seluruh dunia. Tingkat kematian akibat jamur ini mencapai sekitar 70 persen.
“Kami menyaksikan bertambahnya pasien yang menderita infeksi itu selama gelombang kedua Covid-19. Ada banyak orang sakit di UGD, dan banyak dari mereka menerima dosis steroid tinggi. Itu bisa menjadi penyebab,” papar dr Om Srivastava, spesialis penyakit infeksi yang berbasis di Mumbai.
Jamur candida auris sendiri menyebabkan infeksi yang resistan pada obat melanda para pasien Covid-19 di India. Lantas, infeksi jamur apa yang tengah meningkat, khususnya di India?
Saat gelombang penularan Covid-19 melanda India dan banyak pasien sakit parah memenuhi ruang UGD, para dokter menyaksikan peningkatan infeksi jamur yang berbahaya. Pertama, ada wabah mucormycosis atau jamur hitam, infeksi yang jarang terjadi namun berbahaya. Jamur hitam menyerang hidung, mata, dan terkadang otak. Tercatat, sudah ada 12 ribu kasus dan lebih dari 200 kematian akibat penyakit itu.
Sealnjutnya, ada juga kenaikan kasus infeksi jamur lain yang juga mematikan bagi pasien Covid-19, sebagian besar setelah seminggu atau 10 hari dirawat di UGD. Jamur yang dimaksud adalah jamur Candida. Sejauh ini terdapat dua spesies jamur Candida, yaitu auris dan albicans. Keduanya sama-sama berakibat fatal bagi manusia. Adapun Aspergillus, jenis lain dari kelompok jamur mempengaruhi paru-paru dan juga bisa berdampak fatal.
Seperti diwartakan BBCNews, Rabu 2 Juni 2021, sudah lebih lima juta tipe jamur, namun Candida dan Aspergillus diklaim sebagai dua kelompok besar yang sudah merenggut banyak nyawa manusia.
Candida, seperti yang diungkapkan dr Om Srivastava kepada BBCNews adalah jamur yang bisa muncul di banyak permukaan, seperti di tirai kamar mandi, layar komputer, stetoskop dokter, hingga pegangan di gerbong kereta api.
Menurut tim dokter yang menganalisis, jamur C. auris sering menyebabkan infeksi aliran darah, juga bisa menjangkiti sistem pernapasan, sistem saraf pusat, organ dalam, dan kulit. Aspergillus juga tetap berada di lingkungan dan sering ditemukan dalam sistem pemanas maupun pendingin udara. Biasanya, imunitas tubuh seseorang bisa mencegah masuknya spora jamur ke dalam saluran pernapasan.
“Kendati begitu, bagi pasien yang menderita Covid-19, jamur itu bisa masuk ke saluran pernapasan karena kulit, dinding pembuluh darah maupun lapisan saluran napas lainnya pada tubuh pasien sudah rusak akibat virus corona,” papar dr Om Srivastava.
Sementara itu, menurut dr DP Kalantri dari rumah sakit (RS) Kasturba di Kota Wardha, negara bagian Maharashtra, infeksi ini menimpa sekitar 20-30 persen pasien yang sudah sakit parah maupun yang dibantu mesin ventilator.
Apa gejala-gejala infeksinya? Menurut dr DP Kalatri, gejala sejumlah penyakit jamur bisa mirip dengan Covid-19, termasuk demam, batuk, dan sulit bernapas.
“Untuk infeksi jamur Candida, gejalanya termasuk sariawan berwarna putih, sehingga terkadang infeksi itu disebut ‘jamur putih’, yang hinggap di hidung, mulut, paru-par,u dan perut maupun dasar kuku,” bebernya.
Sementara itu, pada bentuk infeksi yang lebih invasif, khususnya saat kuman itu masuk ke darah, gejalanya adalah sering berupa anjloknya tekanan darah, demam, sakit pada perut, dan infeksi saluran kencing.
Pertanyaannya, mengapa infeksi bisa terjadi? Disebutkan, sedikitnya lima pasien Covid-19 kondisinya menjadi kritis dan butuh perawatan intensif, terkadang sampai waktu yang lama.
Hal itu memang dikemukakan para pakar kesehatan. Mereka mengatakan yang terpaksa dibantu mesin ventilator selalu berisiko lebih besar terjangkit infeksi bakteri maupun jamur.
Seperti diketahui, ruang UGD di banyak rumah sakit di India sendiri sudah penuh pasien Covid-19 selama gelombang kedua penularan. Pasalnya, rendahnya pengendalian infeksi di unit perawatan intensif yang penuh sesak selama pandemi merupakan alasan utama dari mewabahnya jamur itu.
Apalagi, tenaga kesehatan (nakes) yang sudah terlalu lama bekerja dengan pelindung diri yang terbatas, penggunaan tabung cair yang meningkat, dan rendahnya kesadaran mencuci tangan termasuk kebersihan fasilitas dan praktik disinfeksi yang tidak teratur menjadi biang rendahnya pengendalian infeksi.
Hal itu dibenarkan Ketua Lembaga International Society of Human and Animal Mycology, dr Arunaloke Chakrabarti, yang mengungkapkan pandemi yang berkepanjangan, faktor kelengahan dan keletihan adalah faktor utama yang mendera para nakes.
Sehingga, praktik-praktik pengendalian infeksi juga otomatis berkurang. Itulah yang menjadi penyebab utama.
Adapun penggunaan steroid maupun obat-obatan lain yang kelewat batas bisa melemahkan sistem imunitas tubuh, sehingga kondisi ini membuat pasien Covid-19 yang sudah sakit parah kian rentan terkena infeksi jamur.
Hal itu diungkapkan pakar imunologi dr Zachary Rubin. Menurutnya, jamur jenis demikian biasanya menyebabkan infeksi setelah sistem imunitas tubuh berkurang signifikan. Ini juga disebut infeksi oportunistik.
Menurutnya, pasien HIV/AIDS juga secara signifikan berisiko besar terinfeksi jamur. Penyakit jamur ini, sebutnya, tadinya jarang dikaitkan dengan Covid-19 namun kini kian sering terjadi di India.
Parahnya, diagnosis untuk mengetahui jamur-jamur tersebut tidak mudah lantaran pengetesannya butuh spesimen dari dalam paru-paru. Apalagi, obatnya mahal.
Sementara itu, dr Kalantri menambahkan, “musibah” jamur itu sangat mengkhawatirkan dan membuat frustrasi para dokter yang menangani infeksi tersebut.
“Ini seperti menghadapi tiga pukulan beruntun, paru-paru pasien yang sudah rusak oleh Covid-19, lalu sudah terinfeksi bakteri, dan kini infeksi jamur. Ibarat sedang berjuang di pertempuran yang sudah pasti kalah,” tutupnya.















