Terkini - Tren thrifting semakin digemari, terutama oleh generasi muda yang ingin tampil stylish tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Meski sering dipandang sebagai alternatif belanja yang hemat dan ramah lingkungan, thrifting ternyata menyimpan sejumlah dampak negatif yang jarang dibahas. Di balik harganya yang murah dan pilihan yang beragam, ada beberapa risiko dan konsekuensi yang perlu diperhatikan oleh konsumen.
Berikut adalah dampak buruk dari thrifting yang jarang disadari banyak orang.
1. Risiko Kesehatan dari Pakaian Bekas
Tidak semua pakaian bekas melalui proses pencucian dan sterilisasi yang benar sebelum dijual. Beberapa pakaian mungkin masih mengandung bakteri, jamur, tungau, atau zat kimia tertentu yang dapat menimbulkan alergi, iritasi kulit, hingga infeksi. Jika tidak dibersihkan dengan benar, pakaian preloved bisa membawa risiko kesehatan bagi penggunanya.
2. Menurunnya Penjualan Produk Lokal
Meningkatnya minat pada pakaian bekas impor dapat memengaruhi pelaku usaha fashion lokal. UMKM yang menjual produk baru seringkali kalah bersaing dengan harga pakaian thrift yang sangat murah. Hal ini bisa berdampak pada keberlangsungan industri fashion lokal yang masih berkembang.
3, Memicu Overconsumption (Belanja Berlebihan)
Meskipun harganya murah, thrifting sering membuat orang membeli lebih banyak barang dari yang dibutuhkan. Fenomena “kalap belanja” karena harga murah ini justru menambah tumpukan pakaian di rumah, dan pada akhirnya tetap berkontribusi pada masalah limbah fashion.
4. Masalah Lingkungan dari Impor Pakaian Bekas
Banyak orang mengira thrifting otomatis ramah lingkungan, padahal impor pakaian bekas dalam jumlah besar juga menimbulkan masalah baru. Tidak semua pakaian layak jual; banyak yang rusak dan akhirnya menjadi limbah di negara tujuan. Proses pengiriman internasional juga menambah jejak karbon yang cukup signifikan.
5. Potensi Barang Ilegal atau Tidak Sesuai Regulasi
Beberapa pakaian bekas impor masuk tanpa izin resmi atau melanggar aturan perdagangan. Hal ini dapat merugikan negara dari sisi pajak dan legalitas. Selain itu, barang-barang tersebut tidak melalui pemeriksaan standar kesehatan dan kelayakan, sehingga berpotensi membahayakan konsumen.
6. Kualitas Tidak Terjamin
Meski banyak yang berkualitas bagus, pakaian thrift juga bisa memiliki kerusakan kecil yang tidak terlihat seperti jahitan longgar, noda tersamarkan, atau bahan yang sudah mulai rapuh. Pembeli sering kali tertipu oleh tampilan luar dan akhirnya membeli barang yang tidak awet.
7. Mengubah Pola Konsumsi Fashion
Tren thrifting yang terlalu besar dapat mengubah pola konsumsi masyarakat menjadi ketergantungan pada pakaian bekas impor, bukan pada produk baru berkualitas dari pengrajin lokal. Dalam jangka panjang, ini berpotensi melemahkan kreativitas dan pasar fashion asli tanah air.
Kesimpulan
Thrifting memang menawarkan banyak keuntungan, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tren ini juga membawa sejumlah dampak negatif yang perlu diperhatikan. Mulai dari risiko kesehatan hingga ancaman terhadap UMKM lokal, semuanya menunjukkan bahwa thrifting tidak selalu sesederhana “belanja murah dan ramah lingkungan”. Konsumen perlu lebih bijak, memahami risikonya, dan menyesuaikan perilaku belanja sesuai kebutuhan
Penulis: Moh Khafid Nursabani
Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang















