Sementara layanan korporasi BNIdirect mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 16 persen yoy.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit BNI tumbuh 20,1 persen yoy menjadi Rp919,3 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen business banking dan consumer ritel yang berkembang secara seimbang.
Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) turun menjadi 1,94 persen, sementara loan at risk berada di level 8,6 persen, lebih baik dibandingkan periode sebelum pandemi. Biaya kredit (credit cost) tercatat sebesar 1,1 persen, sesuai dengan target perseroan.
Selain itu, pendapatan non-bunga meningkat 12,6 persen yoy, terutama dari kontribusi fee-based income melalui transaksi digital. Hal ini mendorong Pendapatan Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) mencapai Rp9,3 triliun.
Namun demikian, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) mengalami penurunan sebesar 969 basis poin menjadi 83,46 persen, mencerminkan kondisi likuiditas yang lebih longgar.
Di sisi lain, portofolio surat berharga BNI melonjak 23,73 persen yoy menjadi Rp220,65 triliun, melampaui pertumbuhan kredit pada periode yang sama.
“Kinerja ini menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi, dan pengelolaan risiko yang disiplin,” kata Paolo.














