Bhakti menggambarkan semangat pengabdian agar setiap keputusan bisnis memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Sementara Nagara menegaskan orientasi BNI dalam mendukung pembangunan nasional dan menjaga stabilitas perekonomian Indonesia.
Nilai tersebut kemudian diwujudkan dalam budaya kerja BNI melalui tiga perilaku utama, yakni Seva, Karya, dan Raksa.
Seva menekankan pelayanan sepenuh hati dan pembangunan kepercayaan, Karya mendorong profesionalisme serta orientasi pada hasil, sedangkan Raksa menegaskan pentingnya integritas, tata kelola yang baik, dan pengelolaan risiko secara prudent.
Lahir dari Semangat Perjuangan Kemerdekaan
Putrama mengatakan, filosofi tersebut menjadi fondasi BNI dalam menghadapi berbagai perubahan zaman.
Sejak berdiri pada 5 Juli 1946 di tengah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, BNI telah memberikan kontribusi historis terhadap perkembangan perekonomian dan industri perbankan nasional.
BNI didirikan oleh R.M. Margono Djojohadikusumo, tokoh ekonomi nasional yang turut meletakkan fondasi awal kelembagaan keuangan Republik Indonesia. Margono juga dikenal sebagai kakek Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Sebagai pendiri BNI, Margono menanamkan semangat pengabdian kepada negara yang terus hidup dalam perjalanan perseroan.
Semangat tersebut dinilai sejalan dengan nilai Swadharma Bhakti Nagara yang mencerminkan jati diri BNI sebagai bank yang lahir dari perjuangan dan mengemban tanggung jawab untuk berbakti kepada negeri.















