Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) mebel merupakan solusi dari Walikota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka, terhadap pedagang mebel untuk meningkatkan kualitas mebel sekaligus menjadikannya sebagai pusat mebel di Solo.
Dengan adanya bangunan baru, pedagang tidak hanya dapat memajang mebel saja namun difasilitasi dengan adanya ruang produksi, ruang jual beli, gudang, ruang pameran mebel yang didesain khusus untuk mengeringkan kayu.
5. Penataan Jalan Ngarsopuro-Gatot Subroto
Dalam situs Pemprov Jateng disebutkan konsep penataan kawasan Ngarsopuro adalah memperpanjang lokasi Night Market Ngarsopuro, dari Jalan Diponegoro ke selatan hingga koridor Jalan Gatot Subroto sepanjang 390 meter menjadi pusat industri kreatif.
Kemudian dalam situs Kementerian PUPR disebutkan proyek ini sudah dimulai sejak Juni 2022 dengan biaya Rp 31,6 miliar. Lingkup pekerjaannya mencakup fasad dan gapura dengan konsep wayang, Pasar Triwindu, pedestrian dan jalan lingkungan, drainase lingkungan, mural, kanopi, dan lampu kawasan.
Diharapkan dengan penataan kawasan tersebut dapat meningkatkan pariwisata, ekonomi, dan seni budaya, khususnya penyediaan ruang pertunjukan pelataran Pasar Triwindu. Selain itu juga diharapkan akan meningkatkan kualitas permukiman yang aman, nyaman, dan sehat.
6. Renovasi Pura Mangkunegaran
Renovasi Pura Mangkunegaran telah dikerjakan tahun lalu. Pembangunan itu dilakukan di bekas lapangan tenis yang berada di sisi utara barat Pura Mangkunegaran.
Dikatakan anggaran untuk renovasi tersebut mencapai Rp18 miliar. Berdasarkan catatan detikJateng, semua anggaran yang dikucurkan berasal dari Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
7. Revitalisasi Lokananta
Dalam catatan detikJateng, ide revitalisasi dan pengembangan Lokananta berawal dari PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) diberi tugas untuk melakukan transformasi menyeluruh Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI).
Rencana revitalisasi Lokananta ini pun didukung Kementerian BUMN, ekosistem BUMN, dan Pemkot Solo dengan harapan bisa memberi dampak sosial, pertumbuhan ekonomi, dan melestarikan budaya Indonesia.
Adapun biaya revitalisasi studio rekaman legendaris itu mencapai Rp50 miliar. Dana yang digunakan ini berasal dari PT Danareksa, selaku BUMN pemilik aset Lokananta.















