La Nina Kembali Jadi Ancaman Produksi Beras dan Pertanian di Sulsel

La Nina Kembali Jadi Ancaman Produksi Beras dan Pertanian di Sulsel

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar - Sektor pertanian adalah primadona bagi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Selatan. Subsektor paling utamanya adalah beras.

Namun, sektor ini mengalami kemerosotan sejak akhir 2023, hingga pada kuartal pertama tahun 2024, akibat el nino yang mengganggu panen beras. Pertumbuhan sektor pertanian pada triwulan 1 2024 lalu, mengalami kontraksi dengan tumbuh mines 3,72 persen. Padahal kontribusinya mencapai 21,2 persen terhadap ekonomi.

Bank Indonesia Sulawesi Selatan memang mencatat, sektor pertanian ini sudah mulai membaik pada triwulan kedua tahun 2024.

Terlihat dengan terjadinya pertumbuhan hingga sekitar 1,38 persen secara year-on-year (yoy) pada sektor pertanian. Dengan share pertanian terhadap PDRB yang mencapai 23,6 persen (tertinggi), Sulsel bisa mengalami pertumbuhan hingga 4,98 persen (year-on-year/yoy) pada triwulan kedua 2024.

Bank Indonesia mencatat, kinerja pertanian tersebut seiring dengan produksi beras di Sulawesi Selatan yang kembali melejit pada triwulan kedua 2024.

"Produksi beras pada kuartal kedua 2024 tumbuh hingga 12,72 persen. Sementara pada triwulan satu 2024, mengalami pertumbuhan mines 62,9 persen," Kepala Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda belum lama ini.

Dia kemudian mengingatkan, ancaman La Nina yang bisa kembali terjadi pada Bulan Oktober 2024 mendatang. Seperti diketahui, La Nina bisa memicu curah hujan yang tinggi, yang bisa merendam lahanl-lahan pertanian dan mengganggu produksi padi.

Perang Rusia-Ukraina

Indonesia, khususnya Sulsel yang agraris, punya produk pangan yang melimpah dan seharusnya bisa memacu produksi pertanian yang lebih besar lagi.

Mengingat kebutuhan pangan dunia yang besar, dan meningkat khususnya dengan terjadinya perang antara Rusia-Ukraina dan konflik di Timur Tengah.

Pengamat Ekonomi Universitas Hasanuddin, Marsuki DEA, menyebut, Indonesia seharusnya bisa menyuplai pangan untuk negara-negara yang perang tersebut.

"Bayangkan, orang perang, harusnya kita yang kasih mereka makan. Tapi kita juga malah menjadi korban, karena produksi pertanian kita justru turun," jelas Marsuk dalam kegiatan Sulsel Talk yang digelar Bank Indonesia Sulsel pada 21 Mei 2024 lalu.

Deflasi Sektor Pertanian

Setelah mengalami pertumbuhan negatif akibat fenomena El Nino, produksi beras yang melimpah pada triwulan kedua 2024 juga memicu deflasi. Pertanian tercatat mengalami deflasi hingga 0,65 persen secara year-to-date atau YTD, pada triwulan kedua 2024.

Sehingga, pada triwulan kedua 2024, ekonomi Sulsel mengalami deflasi hingga 0,65 persen secara YTD.