Saat ini, IHSG berada pada level 6146,91 atau melemah 5,02 persen dibandingkan penutupan H-1 sebesar 6.471,95. Penurunan IHSG didorong oleh saham-saham di sektor Teknologi (-11,7%), sektor Keuangan (-2,7%) dan sektor Bahan Baku (-7,2%).
Penerimaan Anjlok dan APBN Defisit pada 2M25
Anjloknya IHSG patut diduga karena investor pesimis dengan kondisi APBN telah mencetak defisit Rp31,2 T atau 0,13% terhadap PDB selama 2M25, dan menandai defisit lebih awal dibandingkan tahun sebelumnya (vs. 2M24: surplus 0,11% terhadap PDB).
Selain itu, penerimaan pajak bruto selama 2M25 melambat (-20,8% YoY) akibat penurunan harga komoditas dan faktor administrasi pajak, seperti implementasi Tarif Efektif Rata–rata (TER) untuk PPh 21 dan relaksasi pembayaran PPN dalam negeri.
Belanja negara turun -7% YoY selama 2M25 karena efek high–base dari tingginya pengeluaran selama akhir 2023 hingga awal 2024 akibat El Nino.
Risiko melebarnya defisit APBN menjadi salah satu kekhawatiran investor, sehingga turut berimbas pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang dapat mempersempit ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga.
Indikator di atas adalah analisis Stockbit Sekuritas.















