Terkini, Makassar – Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Makassar dinilai menjadi momentum strategis bagi pemerintah daerah, khususnya para gubernur di wilayah Sulawesi dan Indonesia Timur, untuk memetakan potensi ekonomi daerah serta memperkuat kerja sama investasi, perdagangan, dan pengembangan industri antar daerah.
Ekonom Sulawesi Tenggara, Dr. Syamsir Nur, menilai forum Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI bukan sekadar ajang silaturahmi saudagar Bugis Makassar, tetapi juga menjadi forum strategis perencanaan pembangunan ekonomi daerah berbasis potensi lokal dan jaringan diaspora Bugis Makassar.
Menurutnya, pemerintah daerah harus memanfaatkan momentum PSBM untuk menyusun peta ekonomi daerah yang jelas serta membuka ruang kolaborasi dengan para pengusaha dan diaspora Bugis Makassar yang tersebar di berbagai daerah dan negara.
“Ini momentum untuk merencanakan pembangunan daerah. Jadi gubernur sudah harus memetakan potensi ekonomi yang ada. Kita lihat sektor mana yang bisa dikolaborasikan dengan para saudagar,” ujar Dr. Syamsir Nur saat ditemui di area PSBM XXVI Makassar.
Ia menjelaskan, kehadiran para pengusaha dan diaspora dalam PSBM merupakan peluang besar bagi pemerintah daerah untuk membuka kerja sama investasi, pengembangan usaha, hingga kolaborasi program pembangunan daerah berbasis potensi lokal.
“Kita berharap pemerintah daerah memberikan ruang kerja sama yang bisa dioptimalkan bersama, termasuk investasi yang bisa berjalan seiring dengan program pembangunan daerah,” lanjutnya.
Perkuat Kerja Sama Antar Daerah dan Hilirisasi Industri
Selain pemetaan potensi ekonomi, PSBM XXVI juga dinilai sebagai momentum untuk memperkuat kerja sama antar daerah, terutama dalam membangun konektivitas ekonomi dan rantai pasok antar wilayah di Indonesia, khususnya kawasan Sulawesi dan Indonesia Timur.
Selama ini, kata dia, banyak daerah hanya mengambil bahan baku dari Sulawesi tanpa membangun industri pengolahan di daerah asal komoditas. Ke depan, kerja sama antar daerah diharapkan mampu mendorong pembangunan industri hilir di daerah penghasil komoditas.
“Kalau Sulawesi punya potensi, selama ini hanya diambil bahan bakunya. Sekarang harusnya industri juga dibangun di sini. Jadi bukan hanya kirim bahan baku, tapi juga pengolahan dan industrinya ada di daerah,” jelasnya.
Transformasi Ekonomi Sulawesi
Dr. Syamsir Nur juga menekankan bahwa kerja sama ekonomi antar daerah ke depan tidak hanya berfokus pada sektor pertanian dan perikanan, tetapi harus mulai bertransformasi ke sektor industri pengolahan, ekonomi kreatif, hingga digitalisasi ekonomi.















