Terkini, Makassar — Ketua DPD ASITA Papua Barat Daya, Yulius Ricky Soeharto, menegaskan bahwa penguatan segmen FIT atau Free Independent Traveler menjadi strategi utama dalam menghadapi dampak isu geopolitik global terhadap industri pariwisata.
Hal tersebut disampaikan di sela pelaksanaan Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) ASITA Tahun 2026 di Makassar yang digelar di Four Points by Sheraton Makassar, 6-8 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi geopolitik global saat ini cukup memengaruhi pergerakan wisatawan mancanegara, khususnya untuk perjalanan wisata dalam jumlah besar atau grup.
“Sekarang untuk membawa grup dalam jumlah besar memang cukup terkendala. Jadi penguatan kami lebih ke FIT individual dan sektor domestik,” ujar Yulius Ricky Soeharto.
Ia menilai wisatawan mancanegara saat ini cukup terdampak oleh berbagai isu global sehingga penguatan wisata domestik dan wisata individu menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan industri pariwisata daerah.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti pentingnya legalitas usaha pariwisata yang dinilai masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
Menurutnya, hingga saat ini masih banyak pelaku usaha perjalanan wisata yang menjalankan usaha tanpa legalitas dan badan hukum yang jelas.
“Legalitas itu isu yang sudah harus kita bahas sekarang. Karena sampai saat ini semua orang bisa berusaha tanpa legalitas. Nah itu membahayakan bagi pelaku usaha yang taat dan patuh terhadap aturan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan badan hukum sangat penting karena berkaitan langsung dengan tanggung jawab terhadap wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara.
“Kalau kita punya badan hukum, itu bisa dipertanggungjawabkan. Tapi kalau tidak punya badan hukum, tentu akan sangat berisiko, terutama bagi wisatawan mancanegara,” ujarnya.















