Sepanjang 2025, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia tercatat mencapai 15,39 juta kunjungan. Sementara rata-rata pengeluaran wisatawan asing mencapai 1.267 dolar Amerika Serikat per kunjungan.
Untuk sektor wisata domestik, perjalanan wisatawan nusantara sepanjang 2025 mencapai sekitar 1,2 miliar perjalanan atau melampaui target nasional sebesar 1,08 miliar perjalanan.
“Sebagai hasil dari pertumbuhan tersebut, sektor pariwisata berkontribusi sebesar 3,96 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan mendukung lebih dari 25,91 juta lapangan pekerjaan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Ni Luh menegaskan bahwa keberhasilan sektor pariwisata tidak terlepas dari kolaborasi pentahelix antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, dan masyarakat.
Ia memberikan apresiasi kepada seluruh pelaku industri, termasuk ASITA dan pelaku usaha perjalanan wisata, yang dinilai konsisten mendukung promosi dan penguatan sektor pariwisata nasional.
“Keberhasilan ini lahir dari kolaborasi pentahelix yang kuat, termasuk dukungan luar biasa dari teman-teman ASITA dan seluruh pelaku industri pariwisata,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mengakui masih adanya tantangan besar yang dihadapi sektor pariwisata, khususnya terkait kenaikan harga tiket pesawat.
Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau, konektivitas udara disebut menjadi faktor vital dalam mendukung mobilitas wisatawan.
“Atas arahan Bapak Presiden, pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis untuk membantu menekan harga tiket pesawat, antara lain melalui pemberian insentif PPN yang ditanggung pemerintah, penyesuaian surcharge, serta kebijakan bea masuk nol persen untuk komponen tertentu dalam industri penerbangan,” kata Ni Luh.
Meski demikian, ia mengakui hasil kebijakan tersebut belum sepenuhnya maksimal akibat tekanan biaya operasional dan harga avtur global.















