Harga Tiket Penerbangan Dinilai Masih Tinggi, Ketum DPP ASITA Harap Solusi Konkret

Harga Tiket Penerbangan Dinilai Masih Tinggi, Ketum DPP ASITA Harap Solusi Konkret

EP
Echa Panrita Lopi

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar — Ketua Umum DPP Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Dr. N. Rusmiati, M.Si., M.H menyoroti tingginya harga tiket pesawat domestik yang dinilai masih menjadi tantangan besar bagi pertumbuhan industri pariwisata nasional.

Menurutnya, pemerintah sejauh ini telah menunjukkan perhatian serius dalam upaya menekan harga tiket penerbangan. Namun, kondisi global dan meningkatnya biaya operasional industri penerbangan turut memengaruhi harga tiket di dalam negeri.

“Pemerintah sudah sangat concern bagaimana caranya menurunkan harga tiket. Tapi memang dengan situasi global sekarang, semuanya ikut terdampak,” ujarnya saat ditemui terkini.id di area Rakernas II ASITA 2026 di Four Points by Sheraton Makassar, Kamis 7 Mei 2026.

Ia mengatakan persoalan mahalnya tiket pesawat bukan hal baru dan bahkan sudah dirasakan sebelum terjadinya tekanan ekonomi global. Karena itu, diperlukan langkah bersama antara pemerintah, maskapai, dan pelaku industri pariwisata untuk mencari solusi yang tepat dan berkelanjutan.

Harga Tiket Penerbangan Dinilai Masih Tinggi, Ketum DPP ASITA Harap Solusi Konkret

“Mudah-mudahan kita bisa duduk bersama mencari solusi terbaik. Pemerintah sudah bekerja keras, tapi memang perlu survei dan pembahasan bersama,” katanya.

Pemilik Patindo Tour and Travel ini juga menyoroti fenomena harga tiket internasional yang dalam beberapa kasus lebih murah dibandingkan penerbangan domestik di Indonesia. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi minat masyarakat dalam memilih destinasi wisata.

“Contohnya dari Padang ke Kuala Lumpur bisa sekitar Rp500 ribu dengan maskapai seperti AirAsia, sementara ke Bali bisa Rp1,5 juta. Akhirnya orang berpikir lebih baik ke Malaysia,” ujarnya.

Ia berharap Bapak Presiden Prabowo Subianto dapat membuka ruang dialog bersama ASITA guna membahas persoalan tiket penerbangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Mudah-mudahan Pak Presiden bisa duduk bersama dengan ASITA supaya benar-benar ada solusi untuk persoalan ini,” katanya.

Meski demikian, ASITA tetap mengajak masyarakat untuk mendukung pariwisata dalam negeri. Menurutnya, pergerakan wisatawan domestik memiliki dampak ekonomi besar terhadap berbagai sektor usaha di daerah.

“Kalau pariwisata bergerak, maka pedagang suvenir, hotel, restoran, transportasi, semuanya ikut hidup,” ujarnya.

Ia menambahkan sektor pariwisata merupakan salah satu penggerak ekonomi nasional yang memiliki efek berantai luas terhadap kesejahteraan masyarakat.

“Pariwisata itu terintegrasi dan menjadi salah satu sektor yang cepat menghasilkan perputaran ekonomi,” tutupnya.