Namun, selama menjalani pendidikan, Rafael menyadari bahwa bidang pertanahan memiliki peran yang jauh lebih luas dalam kehidupan masyarakat, terutama dalam menyelesaikan berbagai konflik dan sengketa tanah.
“Dari kecil saya memang suka melihat peta. Setelah mengetahui dan mempelajari bidang pertanahan, saya jadi tahu bahwa ilmu ini sangat penting untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di masyarakat, termasuk masalah sengketa tanah yang sering terjadi di lingkungan saya,” ungkap Rafael.
Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memahami hak atas tanah maupun aspek hukum pertanahan.
Karena itu, kebutuhan akan sumber daya manusia yang kompeten di bidang agraria menjadi semakin penting, khususnya di wilayah dengan karakteristik pertanahan yang kompleks seperti Papua.
“Harapannya setelah lulus nanti saya bisa kembali dan membagikan ilmu yang saya dapatkan kepada masyarakat. Dengan begitu masyarakat bisa lebih memahami hak-haknya dan tidak mudah dirugikan dalam urusan pertanahan,” tuturnya.
Bagi Alfando dan Rafael, pendidikan di Politeknik Agraria STPN merupakan langkah strategis untuk mempersiapkan diri menjadi bagian dari pembangunan daerah.
Keduanya berharap ilmu yang diperoleh dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Papua, khususnya dalam mewujudkan tata kelola pertanahan yang lebih baik, tertib, dan berkeadilan.
Kisah kedua taruna tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan sumber daya manusia di bidang agraria tidak hanya berada di pusat-pusat pembangunan, tetapi juga sangat dibutuhkan di daerah yang masih menghadapi berbagai tantangan terkait pertanahan dan tata ruang.
Sementara itu, Politeknik Agraria STPN masih membuka pendaftaran Taruna/Taruni Tahun Akademik 2026 bagi lulusan SMA/sederajat yang berminat mendalami bidang pertanahan dan tata ruang. Pendaftaran berlangsung hingga 18 Juni 2026.















