Menurutnya, Indonesia perlu menyiapkan regulasi yang adaptif agar inovasi medis tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat tanpa mengabaikan aspek keamanan, khasiat, dan mutu.
Selain itu, Taruna mendorong dokter umum untuk memperkuat budaya farmakovigilans melalui pelaporan efek samping obat, penggunaan antibiotik secara rasional, serta peningkatan literasi masyarakat dalam memilih obat dan pangan yang aman.
"Keamanan obat dan pangan adalah investasi jangka panjang bagi generasi mendatang. Ketika masyarakat terlindungi sejak awal, maka kita sedang membangun Indonesia yang lebih sehat, lebih produktif, dan lebih berdaya saing," tegasnya.
Paparan Taruna mendapat respons positif dari para peserta. Berbagai pertanyaan dan masukan yang muncul selama sesi diskusi menunjukkan tingginya komitmen dokter umum untuk memperkuat pelayanan kesehatan preventif bersama BPOM.
Forum tersebut menjadi momentum mempererat sinergi antara BPOM dan dokter umum dalam membangun sistem kesehatan nasional yang tangguh.
Melalui kolaborasi yang semakin kuat, transformasi pelayanan kesehatan berbasis pencegahan diharapkan mampu melahirkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.















