“Penurunan perjalanan ke luar negeri terjadi bersamaan dengan meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik destinasi dalam negeri tetap kuat dan semakin menjadi pilihan masyarakat Indonesia,” kata Ni Luh Puspa.
Indonesia juga masih mencatatkan surplus kunjungan wisatawan. Pada Mei 2026, jumlah kunjungan wisman melampaui perjalanan wisatawan nasional dengan surplus 0,83 juta kunjungan.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, surplus kunjungan wisatawan mencapai 2,37 juta.
“Kondisi ini mendukung pencapaian net devisa pariwisata yang positif bagi Indonesia,” ujarnya.
Okupansi Hotel Terus Membaik
Pemulihan sektor akomodasi juga menunjukkan tren positif. Tingkat okupansi hotel bintang pada Mei 2026 mencapai 50,76 persen atau meningkat 2,48 poin persentase dibandingkan Mei 2025 sebesar 48,28 persen.
Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026, tingkat okupansi hotel bintang mencapai 46,99 persen.
Angka tersebut naik 2,14 poin persentase dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 44,85 persen.
“Okupansi hotel yang membaik menjadi sinyal positif bagi ekosistem pariwisata karena berhubungan langsung dengan pergerakan wisatawan, pendapatan pelaku usaha, penyerapan tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi pendukung di destinasi,” kata Ni Luh Puspa.
Kemenpar Perkuat Konektivitas Destinasi Prioritas














