Selain Kampoeng Laweyan, BNI turut menghadirkan Batik Kalimasada dari Purwantoro, Wonogiri. Batik ini memiliki ciri khas berupa motif “remukan” atau retakan pada malam, dengan warna dasar kuning kecokelatan atau sogan.
Karakter tersebut menjadi identitas Batik Kalimasada sekaligus memperkaya ragam motif batik Nusantara yang ditampilkan selama pameran.
Borneo Queen Tampilkan Perhiasan Khas Kalimantan
BNI juga menghadirkan Borneo Queen, UMKM asal Palangkaraya yang memproduksi perhiasan berbahan batu khas Kalimantan dan pelat kuningan.
Produk yang ditampilkan meliputi bros, kalung, cincin, serta berbagai aksesori lainnya. Desain perhiasan tersebut terinspirasi dari kekayaan flora dan fauna Kalimantan.
Beragam koleksi batik dan perhiasan karya perajin lokal itu dapat dijumpai pengunjung di booth UMKM BNI selama penyelenggaraan Puspa Nuswantara 2026.
Menurut Okki, partisipasi dalam pameran tidak semata-mata ditujukan untuk memperkenalkan produk unggulan mitra binaan. Ajang tersebut juga diharapkan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, baik institusi maupun individu.
Pameran sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas produk, mulai dari pengembangan desain dan motif hingga kemasan serta strategi pemasaran.
BNI memandang Puspa Nuswantara bukan hanya sebagai ajang promosi dan transaksi, tetapi juga ruang apresiasi terhadap produk unggulan khas Indonesia.
Sejalan dengan semangat melayani sepenuh hati, BNI menjalankan peran tersebut sebagai bagian dari sinergi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia dalam memperkuat sektor produktif, termasuk industri kreatif berbasis budaya.















