“Pada umumnya, puskesmas yang sebelumnya melayani masyarakat selama 24 jam kini harus beralih menjadi posko tenda pelayanan kesehatan karena bangunan yang rusak dan sejumlah petugasnya turut menjadi korban bencana,” jelas dr. Halik.
Medan Ekstrem dan Gempa Susulan Jadi Tantangan
Kondisi geografis menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Jalur pegunungan dengan jurang dan tebing curam semakin sulit dilalui akibat kerusakan jalan dan longsor di sejumlah titik.
Gempa susulan juga membuat masyarakat maupun tenaga kesehatan harus tetap waspada selama menjalankan aktivitas pelayanan.
Meski demikian, petugas puskesmas bersama relawan terus berupaya menjangkau seluruh wilayah kerja dan memastikan masyarakat tetap mendapatkan hak atas pelayanan kesehatan.
“Tantangan terbesar adalah kapasitas layanan kesehatan dasar yang belum memadai, bahkan sebelum bencana terjadi. Situasi ini diperberat dengan wilayah terdampak yang sulit diakses dan bertambah sulit pascabencana karena jalan putus atau longsor di sejumlah titik,” ujar dr. Halik.
Kemenkes terus memperkuat respons kesehatan bersama pemerintah daerah melalui dukungan tenaga kesehatan, pelayanan kesehatan bergerak, tenda pelayanan, serta logistik medis.
Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kesinambungan pelayanan kesehatan bagi masyarakat selama fasilitas kesehatan yang terdampak gempa masih dalam proses pemulihan.














