Gaskeun! Perlekas Distribusi Oksigen, Pemerintah Bentuk Satgas Oksigen Covid-19

Gaskeun! Perlekas Distribusi Oksigen, Pemerintah Bentuk Satgas Oksigen Covid-19

Effendy Wongso

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Gaskeun! Perlekas distribusi oksigen, pemerintah bentuk satgas oksigen Covid-19. Terkait melonjaknya angka penularan virus corona yang merundung masyarakat di Tanah Air belakangan ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, setiap provinsi di Pulau Jawa akan membentuk Satgas Oksigen guna mengetahui kebutuhan oksigen dalam penanganan Covid-19 di setiap rumah sakit.

Menurutnya, Satgas Oksigen tersebut nantinya bakal mendata menggunakan sistem yang telah disiapkan Kementerian Kesehatan (Kemekes).

“Nanti Satgas Oksigen ini akan berhubungan dengan Satgas di kantor pusat yang akan menghubungkan antara kebutuhan masing-masing rumah sakit di provinsi terhadap produsen-produsen yang ada di Indonesia, dan bahkan kalau memang memerlukan kita akan melakukan impor oksigen,” tegas Budi dalam konferensi pers virtual, Jumat 9 Juli 2021.

Budi menambahkan, seperti dilansir dari kontan.co.id, Jumat 9 Juli 2021, kebutuhan oksigen sebelumnya sekitar 400 ton per hari. Kendati demikian, setelah terjadi lonjakan kasus saat ini kebutuhan oksigen semakin meningkat menjadi ke 800 ton per hari dan bahkan mencapai 1.000 ton per hari.

“Yang kita sekarang sedang mempersiapkan, berdasarkan perhitungan kita, kita mungkin memerlukan dengan sangat konservatif sampai 2.400 ton per hari,” bebernya.

Menurut Budi, pihaknya sudah mempersiapkan bagaimana mensuplai kebutuhan oksigen tersebut untuk masing-masing rumah sakit yang ada di Jawa dan Bali. Kemenkes telah melakukan simulasi kebutuhan oksigen.

Menurutnya, hampir seluruh kota di luar Pulau Jawa kondisi rumah sakitnya relatif cukup baik. Kendati begitu, belajar dari pengalaman di Pulau Jawa, Kemenkes harus memastikan pasokan oksigen lebih siap.

“Dan kita sudah menghitung kebutuhan oksigen ke masing-masing provinsi. Kita juga sudah membuat website khusus di mana setiap rumah sakit bisa memastikan data kebutuhannya, sehingga kita tahu, sisa oksigennya 12 jam lagi, 24 jam sehingga kita di pusat bisa membantu melakukan intervensi untuk memenuhi kebutuhan oksigen ini,” imbuh Budi.