Wah! Ternyata Presiden Soeharto Ingkari Wasiat Bung Karno Soal Lokasi Makamnya

Wah! Ternyata Presiden Soeharto Ingkari Wasiat Bung Karno Soal Lokasi Makamnya

Achmad Rizki Muazam

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Sebelum wafatnya, Bung Karno sempat memberi wasiat soal tempat di mana kelak ia akan dikubur.

Menurut Cindy Adams, Bung Karno ingin dimakamkan di bawah pohon rindang dengan alam yang indah, di samping sungai dengan udara segar nan pemandangan bagus.

Hal ini Bung Karno sampaikan dalam wawancaranya dengan Cindy Adams, penulis asal Amerika Serikat.

"Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal," ujar Bung Karno dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams.

Wah! Ternyata Presiden Soeharto Ingkari Wasiat Bung Karno Soal Lokasi Makamnya
Prosesi pemakaman Bung Karno /merahputih.com

"Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen," tambahnya.

Tak hanya itu, menurut sejarawan Asvi Warman Adam, kerabat Bung Karno, Masagung dalam buku Wasiat Bung Karno mengungkapkan bahwa Soekarno telah menulis semacam wasiat, masing-masing dua kali, kepada istrinya Hartini (16 September 1964 dan 24 Mei 1965) dan Ratna Sari Dewi (20 Maret 1961 dan 6 Juni 1962).

“Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor,” tulis Asvi dalam buku Bung Karno Dibunuh Tiga Kali, seperti dikutip dari historia.

Selain itu, menurut sejarawan Arifin Suryo Nugroho dalam bukunya Fatmawati The First Lady, keluarga sepakat untuk mengakomodasi wasiat Bung Karno.

"Yaitu menentukan tempat pemakamannya di halaman rumah miliknya yang teduh di bawah pepohonan nan besar, Hing Puri Bima sakti Batutulis, Bogor," tulis Arifin Suryo Nugroho.

Namun, ironis, Soeharto yang saat itu menjadi Presiden tak mengabulkan wasiat Bung Karno serta keinginan keluarganya.

Menurut Asvi Warman Adam, Soeharto dalam otobiografinya, mengatakan bahwa sebelum memutuskan tempat pemakaman Soekarno, dirinya mengundang pemimpin partai.

"Jelas Soeharto menganggap itu masalah politik yang cukup pelik. Jadi, pemakaman tidak ditentukan keluarga, tetapi melalui pertimbangan elite politik," tulis Asvi, seperti dilansir dari Lipi.

Melansir historia, Soeharto pun memutuskan untuk memakamkan Soekarno di Blitar, di samping makam ibunya, pada 22 Juni 1970.

Wah! Ternyata Presiden Soeharto Ingkari Wasiat Bung Karno Soal Lokasi Makamnya
Upacara pemakaman Bubg Karno /Varia

Pemakaman di Blitar itu dilaksanakan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 Tahun 1970 tertanggal 21 Juni 1970.

Keputusan itu, menurut Asvi, diambil Soeharto demi pertimbangan keamanan.

Asvi menjelaskan, jika dikuburkan di Kebun Raya, pendukung Bung Karno akan berdatangan ke sana dalam rombongan yang sangat banyak, sedangkan jarak Bogor dengan ibu kota Jakarta tidak begitu jauh.

"Hal tersebut dianggap berbahaya, apalagi saat itu menjelang Pemilu 1971," tambahnya.

Selain itu, menurut Jusuf Wanandi, aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia), Soeharto mengingkari pesan akhir Sukarno yang ingin dikubur di bawah pohon yang rindang di Istana Bogor.

Namun, kata Jusuf Wanandi, itu akan menempatkan makamnya terlalu dekat dengan Jakarta dan dapat dipolitisasi oleh para pendukungnya.

"Sekali lagi kita menyaksikan kehebatan Soeharto dengan nalurinya untuk tetap berjaya,” tambahnya, seperti dikutip dari historia.

Wah! Ternyata Presiden Soeharto Ingkari Wasiat Bung Karno Soal Lokasi Makamnya
Masyarakat mengiringi jenazah Bung Karno di Blitar /wartakota

Meski demikian, menurut Asvi, sepanjang jalan Malang-Blitar, rakyat melepas kepergian Sang Proklamator di pinggir jalan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa di sini Soekarno dimakamkan dengan Inspektur Upacara Panglima ABRI Jenderal Panggabean pada sore hari.

"Seusai acara resmi, rakyat ikut menabur bunga. Karena banyaknya tanaman itu, sampai terbentuk gunung kecil di atas pusara Sang Putra Fajar tersebut," tulis Asvi, seperti dikutip dari Lipi.