Wafatnya Soekarno: Diasingkan dari Keluarga dan Kerabat, hingga Tak Dapat Perawatan Maksimal

Wafatnya Soekarno: Diasingkan dari Keluarga dan Kerabat, hingga Tak Dapat Perawatan Maksimal

Achmad Rizki Muazam

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Hari ini, tepat 51 tahun lalu, Bung Karno menghembuskan napas terakhir di usia 69 tahun.

Sang Putra Fajar ini, meninggal setelah beberapa tahun mengalami sakit di tempat pengasingannya.

Di akhir hayatnya, Soekarno menjalani hari-hari terakhirnya dengan memilukan.

Melansir historia, setelah dijatuhkan pada Maret 1967 dengan naiknya Jenderal Soeharto menjadi presiden, Soekarno menjadi tahanan rumah di Istana Bogor.

Bung Karno menjadi tahanan rumah, menurut Jusuf Wanandi, mantan aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) lantaran diduga terlibat dalam gerakan makar PKI.

Tak lama, tahun 1969, ketika kondisi kesehatan Bung Karno memburuk dia dipindahkan ke Wisma Yaso di Jakarta (sekarang Museum Satria Mandala).

Melansir Kompas, Bung Karno mengalami sakit batu ginjal, peradangan otak, jantung, dan tekanan darah tinggi.

Namun, sayang, di saat kondisi Bung Karno memburuk tak ada keluarga yang boleh merawatnya.

Wafatnya Soekarno: Diasingkan dari Keluarga dan Kerabat, hingga Tak Dapat Perawatan Maksimal
Prosesi pemakaman Bung Karno /merahputih.com

"Bahkan, keluarga dan kerabatnya pun sulit menemui Bung Karno. Untuk membesuk Bung Karno, mereka harus mendapat izin lebih dulu dari otoritas yang berwenang,” tulis sejarawan Bob Hering dalam buku Soekarno Arsitek Bangsa, seperti dilansir dari historia.

Bung Karno harus menjalani sisa hidupnya dengan kesepian di tengah pengasingan, tanpa dekat dengan keluarga dan kerabatnya.

Hal itulah, menurut Ratna Sari Dewi Sukarno (istri Bung Karno) yang membuat kesehatan Soekarno menurun.

"Soekarno mengalami kemunduran dan kesepian yang mengikis habis seluruh semangat hidupnya," tulis Yuanda Zara, dalam bukunya, Ratna Sari Dewi Sukarno: Sakura di Tengah Prahara.

Dua hari sebelum Bung Karno wafat, menurut Meutia Hatta, Bung Hatta menjenguk Soekarno di Wisma Yaso.

Meutia Hatta, dalam buku Mengenang Bung Hatta (karya I Wangsa Widjaja) menyebut bahwa kondisi Soekarno saat itu tak sadarkan diri. Wajahnya terlihat membengkak dan pucat.

Selain itu, menurut Suroyo (dokter pribadi Soekarno), selama pengasingan Bung Karno sulit mendapatkan perawatan yang maksimal.

"Suroyo sering mengeluh karena tim dokter spesialis sering enggan datang ke Bogor ataupun Wisma Yaso," tulis Brigida Intan Printina dalam jurnalnya, Ku Titipkan Bangsa dan Negeri Ini Kepadamu: Kesaksian Tentang Akhir Hidup Soekarno.

Menurut Suroyo, ada berbagai alasan yang menekan tim dokter spesialis, salah satunya takut diintimidasi.

"Ketika itu siapa pun yang sering datang mengunjungi Sang Prokalamator, pasti dicurigai dan ditanyai macam-macam, seolah-olah Presiden membawa penyakit menular," tulis Intan Printina.

Tak hanya itu, menurut Suroyo, ketika ia meminta alat pencuci darah untuk Bung Karno, hingga si pasein wafat alat itu tak kunjung tiba.

Lebih lanjut, Suroyo mengaku bahwa untuk memeriksa darah Bung Karno, dia hanya menggunakan laboratorium kecil milik Institut Pertanian Bogor.

"Itupun masih dengan menyamarkan nama Presiden Soekarno," tulis Intan Printin.

Hingga akhirnya, hari Minggu pagi, 21 Juni 1970, Soekarno wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto.

Dia memegang tangan dokternya Mahar Mardjono sebelum menghembuskan napas terakhir. Seperti dikutip dari buku Peter Kasenda, Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan.