Ini Alasan Belanda Sekarang Tolak Turis Pemburu Seks dan Narkoba

Ini Alasan Belanda Sekarang Tolak Turis Pemburu Seks dan Narkoba

Effendy Wongso

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Ini alasan Belanda sekarang tolak turis pemburu seks dan narkoba. Amsterdam, ibu kota Belanda dikenal sebagai tempat yang nyaman bagi pelancong atau turis nakal. Nakal, sebab di kota ini mereka bebas berbuat apa saja termasuk mengonsumsi narkoba, ganja, dan lainnya.

Di ibu kota Negeri Kincir Angin ini, sebelumnya turis-turis juga bebas memburu seks di distrik-distrik prostitusi yang banyak bertebaran di sana. Apalagi, semuanya itu legal termasuk narkoba tadi.

Sekarang, Belanda atau khususnya Kota Amsterdam mengatakan tidak lagi menerima turis yang berburu narkoba, seks, dan minuman keras. Intinya, otoritas pemerintah di sana tidak lagi menginginkan turis nakal nan gaduh.

Selama ini, seperti diberitakan CNNNews, Minggu 27 Juni 2021, Kota Amsterdam memang terkenal dengan toleransi yang tinggi terhadap turis yang mengonsumsi narkoba dan seks. Hal itu pulalah yang menarik jutaan wisatawan yang berkunjung ke Amsterdam.

Mereka datang dan melipir ke sisi kumuh kota kanal itu. Angin segar dirasakan warga lokal ketika lockdown diterapkan karena tidak ada lagi turis nakal.

Begitu banyak tempat kosong. Suasana tenang dirasakan kembali warga di pusat kota bersejarah karena minimnya turis asing sejak pandemi corona memaksa pemerintah mengunci daerah itu dari turis asing.

Penduduk mengklaim telah merebut kembali bagian kota yang telah mereka hindari selama bertahun-tahun. Sekarang, mereka tidak yakin ingin mengembalikannya seperti sebelum pandemi.

“Amsterdam membutuhkan turis. Tanpa mereka, museum dan restoran kami yang indah tidak akan bertahan,” papar Nicola Theobald, yang telah tinggal di pusat kota selama 30 tahun.

“Tapi itu adalah bonus selama pandemi ketika mereka tidak bisa datang. Tidak ada lagi kelompok besar turis yang memadati area kanal, paling buruk adalah muntah karena minuman dan obat-obatan. Kami mendapatkan kota kami kembali dan menyukainya seperti itu," aku Nicola.

Sebenarnya, otoritas pemerintah Amsterdam telah berjuang menampik dampak turis yang menyebabkan keriuhan yang berlebihan. Ada di antaranya membuang sampah sembarangan hingga buang air kecil di depan umum selama bertahun-tahun.

Sekarang, setelah mengalami keadaan tanpa pengunjung yang gaduh, otoritas kota bertekad untuk tidak kembali ke masa itu.

Menjelang kebangkitan dunia traveling di musim panas karena sudah ada vaksin, mereka telah meluncurkan kampanye pariwisata yang menghilangkan reputasi buruk Amsterdam sebagai ibu kota pesta para turis nakal yang bisa bebas melakukan hal-hal buruk.

Wisatawan yang menginginkan pesta nan gaduh disuruh menjauh dari Kota Amsterdam. Demikian juga bagi mereka yang ingin mengonsumsi narkoba.

Dewan kota telah menghabiskan 119 ribu dolar AS untuk melakukan kampanye online. Tujuannya, mendorong orang untuk mengunjungi warisan budaya kota dan memperingatkan turis pengganggu tidak akan diterima lagi.

“Tujuan dari kampanye online adalah untuk merangsang perilaku yang diinginkan di kalangan turis umum,” kata Geerte Udo, kepala eksekutif Amsterdam and Partners, agen promosi kota.

Ia menegaskan, “Kamu (para turis) diterima (masuk Amsterdam), tapi tolong minum di dalam ruangan, gunakan urinoir dan tolong nongkrong dengan tenang.”

Jika ada turis yang berbuat rusuh, buang air kecil atau buang sampah secara sembarangan siap-siap didenda sebesar 170 dolar AS atau setara Rp 2,5 juta.